Satunya adalah Ananda, teman terdekat dan pengikut Buddha selama 25 tahun. Dikaruniai ingatan yang
luar biasa, Ananda mampu mengulangi apa yang disampaikan oleh Buddha. Lainnya adalah Upali yang
mengingat semua aturan-aturan Vinaya.
Hanya dua ajaran tersebut – Dhamma dan Vinaya – yang dibawakan dalam Persamuan Pertama.
Walaupun tidak ada perbedaan pendapat mengenai Dhamma (tidak termasuk Abhidhamma), terdapat
beberapa diskusi mengenai aturan-aturan Vinaya.
Sebelum Buddha wafat atau parinibbana, ia memberitahu Ananda bahwa apabila Sangha ingin
memperbaiki atau mengubah beberapa aturan tidak mendasar, mereka dapat melakukannya. Akan tetapi
pada saat itu, Ananda sedang sangat berduka karena Buddha akan segera parinibbana sehingga Ia tidak
menanyakan kepada Buddha aturan-aturan mana yang dimaksudnya tersebut.
Karena anggota-anggota dari persamuan tidak mencapai kata sepakat mengenai apa yang dimaksud
dengan aturan-aturan tidak mendasar, Maha Kassapa akhirnya menetapkan bahwa aturan-aturan yang
telah ditetapkan oleh Buddha tidak diubah dan tidak ada aturan baru yang ditambahkan.
Tidak ada alasan-alasan yang diberikan untuk itu. Maha Kassapa mengatakan sesuatu, bahwa: ― Bila kita
mengubah aturan-aturan, orang-orang akan berkata bahwa pengikut Yang Mulia Gautama telah
mengubah aturan-aturan bahkan sebelum api pemakaman dinyalakan‖.
Dalam persamuan, Dhamma terbagi atas beberapa bagian dan masing-masing bagian diserahkan kepada
pengikut senior dan murid-muridnya untuk dihafalkan. Kemudian, Dhamma diajarkan oleh guru kepada
murid-muridnya secara lisan. Dhamma dibaca setiap hari oleh sekelompok murid yang sering memeriksa
ulang satu sama lain untuk meyakinkan tidak ada yang terlewatkan atau ditambahkan. Para ahli sejarah
sepakat bahwa tradisi penuturan lisan lebih akurat daripada tulisan yang dibuat oleh seseorang menurut
apa yang diingatnya setelah beberapa tahun kejadian.
Persamuan Agung Kedua.Seratus tahun kemudian, persamuan kedua diadakan untuk mendiskusikan
aturan-aturan Vinaya. Tidak ada kebutuhan untuk mengubah aturan-aturan tiga bulan setelah parinibbananya Buddha karena kecilnya perubahan politik, ekonomi atau sosial dalam periode sesingkat ini pada
masa itu.
Tetapi 100 tahun kemudian, beberapa biku melihat kebutuhan untuk mengubah beberapa aturan tidak
mendasar. Biku yang ortodoks mengatakan bahwa tidak ada yang perlu diubah sedangkan lainnya ingin
mengubah aturan-aturan tersebut. Akhirnya, sekelompok Biku meninggalkan persamuan dan mendirikan
Mahasanghika – Kelompok Besar. Saat ketika masih dinamakan Mahasanghika, tidak dikenal yang
namanya Mahayana. Dan pada persamuan kedua, hanya hal berhubungan dengan Vinaya yang yang
didiskusikan dan tidak ada perdebatan mengenai Dhamma.
Pada Persamuan Agung Ketiga,abad ke-3 SM masa pemerintahan Raja Asoka, persamuan ketiga
diadakan untuk mendiskusikan perbedaan pendapat di antara Biku dari aliran-aliran berbeda. Pada
persamuan ini, perbedaan-perbedaan tidak hanya dibatasi pada Vinaya tetapi juga berhubungan dengan
Dhamma. Pada akhir dari persamuan ini, ketua persamuan, Monggaliputta Tissa, menulis satu buku
berjudul Kathavatthu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar