Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 96

Kathavatthu. Buku ini membuktikan adanya kesalahan mendasar serta pandangan dan teori yang salah
yang dianut beberapa aliran. Ajarannya ini disetujui dan diterima persamuan ini sebagai Theravada.
Abhidhamma Pitaka telah dimasukkan saat persamuan ini.
Setelah persamuan ketiga, anak Asoka, Biku Mahinda, membawa Tripitaka beserta penjelasan yang
telah dibahas dalam persamuan ketiga ini ke Sri Lanka. Teks yang dibawa ini masih tersimpan sampai
saat ini di Srilanka tanpa kehilangan satu halaman-pun. Teks tersebut ditulis dalam Pali. Teks ini
berpedoman pada bahasa Magadhi yang digunakan Buddha. Belum dikenal dengan apa yang dinamakan
Mahayana hingga periode ini.
Beberapa sumber mengatakan bahwa diadakan persamuan Agung tandingan di pihak aliran bakal calon￾Mahayana. Namun faktanya aliran tersebut di kemudian hari termasuk ke dalam aliran-aliran yang
"kurang" mendukung Mahayana, bahkan dapat dikatakan bersaing dengan Mahayana di India utara.
Kaum Kushan menunjang agama Buddha dan konsili keempat Buddha kemudian dibuka oleh maharaja
Kanishka, pada kira-kira tahun 100 Masehi di Jalandhar atau di Kashmir. Peristiwa ini seringkali
diasosiasikan dengan munculnya aliran Mahayana secara resmi dan pecahnya aliran ini dengan aliran
Theravada. Mazhab Theravada tidak mengakui keabsahan konsili ini dan seringkali menyebutnya
"konsili rahib bidaah".
Antara abad 1 SM hingga 1 M, kedua istilah Mahayana dan Hinayana muncul di Sutra Saddharma
Pundarika atau Sutra Teratai Ajaran Kebajikan.
Kira-kira pada abad ke-2 M, Mahayana barulah didefinisikan secara jelas. Nagarjuna mengembangkan
filosofi ―kekosongan‖ Mahayana dan membuktikan bahwa segala sesuatunya adalah ―Kosong‖ dalam
buku kecil ―Madhyamika-karika‖. Kira-kira pada abad ke-4, Asanga dan Vasubandhu banyak menulis
buku-buku Mahayana. Setelah abad ke-1 M, kaum Mahayana meneguhkan pendiriannya dan setelahnya
istilah Mahayana dan Hinayana mulai dikenal.
Mahayana menciptakan Bodhisattva-Bodhisattva sedangkan Theravada menganggap seorang
Bodhisattva adalah salah satu di antara kita yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk mencapai
kesempurnaan, yang tujuan utamanya adalah Penerangan Sempurna untuk kebahagiaan mahluk di dunia.
Teks-teks Mahayana sendiri menyebutkan bahwa tujuan para Bodhisattva ialah mencapai ke-Buddha-an
demi menolong semua mahkluk, karena hanya dengan menjadi Buddha yang sempurna maka seseorang
memiliki kemampuan mencerahkan mahkluk lain. Tanpa diri sendiri mencapai pencerahan terlebih
dahulu, bagaimana mungkin dapat mencerahkan mahkluk lain? Ini adalah tanggapan penganut lain
Budha.
Kesimpulan Penulis adalah,Borobudur yang di anggap sebagai Candi Buddha ,Benarkah mewakili ajaran
Buddha seperti ajaran asli yang di ajarkan Sidharta Gautama,Jika Anggapan dan penafsiran tentang
apapun di candi Borobudur yang menjelaskan bahwa Borobudur adalah ajaran Buddha dan ber aliran
Mahayana,hal itu berarti tidak mewakili ajaran Buddha,Bagaimana sesuatu yang di anggap sempalan bisa
mewakili sesuatu yang asli.Jika benar candi Borobudur adalah candi Buddha.
Guna mengetahui lebih jauh tentang Budha dan perkembangan nya ,kita bisa lihat pada pemaparan di
bawah ini tentang sejarah dan Tahun perkembangan Ajaran Buddha,kita bisa mengetahui pada tahun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar