Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 80

Akibat kekalahan dalam perjudian tersebut, para Pandawa harus menjalani hukuman pengasingan di
Hutan Kamiyaka selama 12 tahun, ditambah dengan setahun menyamar sebagai orang rakyat jelata di
Kerajaan Wirata. Namun setelah masa hukuman berakhir, para Korawa menolak mengembalikan hak￾hak para Pandawa. Sebenarnya Yudhistira (Saudara sulung dari Pandhawa), hanya menginginkan 5 desa
saja untuk dikembalikan ke pandhawa. Tidak utuh satu Amarta yang dituntut. tetapi Korawa pun tidak
sudi memberikan satu jengkal tanah pun ke pandhawa. Akhirnya keputusan diambil lewat perang
Baratayuda yang tidak dapat dihindari lagi.
Kitab Jitapsara ,Dalam pewayangan Jawa dikenal adanya sebuah kitab yang tidak terdapat dalam versi
Mahabharata. Kitab tersebut bernama Jitabsara atau Jitapsara, yang berisi kurang lebih skenario (Jw.:
pakem) jalannya peperangan dalam Baratayuda, termasuk urutan siapa saja yang akan menjadi korban.
Kitab ini ditulis oleh Batara Penyarikan, sebagai juru catat atas apa yang dibahas oleh Batara Guru, raja
kahyangan, dengan Batara Narada mengenai skenario tadi.
Kresna, raja Kerajaan Dwarawati yang menjadi penasihat pihak Pandawa, berhasil mencuri dengar
pembicaraan dan penulisan kitab tersebut dengan menyamar sebagai seekor lebah putih (Jw: Klanceng
Putih). Ketika tiba pada bagian Prabu Baladewa diperhadapkan dengan Antareja, Klanceng Putih lalu
menumpahkan tinta yang dipakai, sehingga bagian atau bab itu batal ditulis.
Klanceng Putih kemudian menjelma menjadi Sukma Wicara, yakni bentuk halus (sukma) dari Batara
Kresna. Sukma Wicara memprotes diperhadapkannya Prabu Baladewa, yang adalah kakak Prabu
Kresna, dengan Antareja, anak dari Bimasena; karena Baladewa pasti akan kalah dari Antareja. Selain itu,
Sukma Wicara meminta agar diperbolehkan memiliki Kitab Jitapsara itu.
Batara Guru merelakan kitab Jitapsara menjadi milik Kresna, asalkan ia selalu menjaga kerahasiaan
isinya, serta bersedia menukarnya dengan Kembang Wijayakusuma, yaitu bunga pusaka milik Kresna
yang bisa digunakan untuk menghidupkan orang mati. Di samping
itu, Batara Guru juga meminta Kresna untuk mengatur
penyelesaian soal Baladewa dan Antareja. Kresna
menyanggupinya. Sejak saat itu Kresna kehilangan
kemampuannya untuk menghidupkan orang mati, namun ia
mengetahui dengan pasti siapa saja yang akan gugur di dalam
Baratayuda sesuai isi Kitab Jitapsara yang telah ditakdirkan oleh
dewata. Kelak, Kresna juga akan meminta Baladewa untuk
bertapa di Grojogan Sewu selama perang Baratayuda, dan
meminta kesediaan Antareja untuk kembali ke alam abadi,
sehingga pertempuran di antara kedua ksatria itu tidak terjadi.
Babak pertama ,Dikisahkan, Bharatayuddha diawali dengan pengangkatan senapati agung atau
pimpinan perang kedua belah pihak. Pihak Pandawa mengangkat Resi Seta sebagai pimpinan perang
dengan pendamping di sayap kanan Arya Utara dan sayap kiri Arya Wratsangka. Ketiganya terkenal
ketangguhannya dan berasal dari Kerajaan Wirata yang mendukung Pandawa. Pandawa menggunakan
siasat perang Brajatikswa yang berarti senjata tajam. Sementara di pihak Kurawa mengangkat Bisma
(Resi Bisma) sebagai pimpinan perang dengan pendamping Pendeta Drona dan prabu Salya, raja
kerajaan Mandaraka yang mendukung Korawa. Bisma menggunakan siasat Wukirjaladri yang berarti
"gunung samudra.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar