Balatentara Korawa menyerang laksana gelombang lautan yang menggulung-gulung, sedang pasukan
Pandawa yang dipimpin Resi Seta menyerang dengan dahsyat seperti senjata yang menusuk langsung ke
pusat kematian. Sementara itu Rukmarata, putra Prabu Salya datang ke Kurukshetra untuk menonton
jalannya perang.
Meski bukan anggota pasukan perang, dan berada di luar
garis peperangan, ia telah melanggar aturan perang, dengan
bermaksud membunuh Resi Seta, Pimpinan Perang
Pandawa. Rukmarata memanah Resi Seta namun panahnya
tidak melukai sasaran. Setelah melihat siapa yang
memanahnya, yakni seorang pangeran muda yang berada
di dalam kereta di luar garis pertempuran, Resi Seta
kemudian mendesak pasukan lawan ke arah Rukmarata.
Setelah kereta Rukmarata berada di tengah pertempuran, Resi Seta segera menghantam dengan gada
(pemukul) Kyai Pecatnyawa, hingga hancur berkeping-keping. Rukmarata, putera mahkota Mandaraka
tewas seketika.
Dalam peperangan tersebut Arya Utara gugur di tangan Prabu Salya sedangkan Arya Wratsangka tewas
oleh Pendeta Drona. Bisma dengan bersenjatakan Aji Nagakruraya, Aji Dahana, busur Naracabala,
Panah kyai Cundarawa, serta senjata Kyai Salukat berhadapan dengan Resi Seta yang bersenjata gada
Kyai Lukitapati, pengantar kematian bagi yang mendekatinya. Pertarungan keduanya dikisahkan sangat
seimbang dan seru, hingga akhirnya Bisma dapat menewaskan Resi Seta. Bharatayuddha babak pertama
diakhiri dengan sukacita pihak Korawa karena kematian pimpinan perang Pandawa.
Babak Kedua ,Setelah Resi Seta gugur, Pandawa kemudian mengangkat Drestadyumna
(Trustajumena) sebagai pimpinan perangnya dalam perang Bharatayuddha. Sedangkan Bisma tetap
menjadi pimpinan perang Korawa. Dalam babak ini kedua kubu berperang dengan siasat yang sama yaitu
Garudanglayang (Garuda terbang).
Dalam pertempuran ini dua anggota Korawa, Wikataboma dan kembarannya, Bomawikata, terbunuh
setelah kepala keduanya diadu oleh Bima. Sementara itu beberapa raja sekutu Korawa juga terbunuh
dalam babak ini. Diantaranya Prabu Sumarma, raja Trigartapura tewas oleh Bima, Prabu Dirgantara
terbunuh oleh Arya Satyaki, Prabu Dirgandana tewas di tangan Arya Sangasanga (anak Setyaki), Prabu
Dirgasara dan Surasudirga tewas di tangan Gatotkaca, dan Prabu Malawapati, raja Malawa tewas terkena
panah Hrudadali milik Arjuna.
Bisma setelah melihat komandan pasukannya berguguran kemudian maju ke medan pertempuran,
mendesak maju menggempur lawan. Atas petunjuk Kresna, Pandawa kemudian mengirim Dewi Wara
Srikandi untuk maju menghadapi Bisma. Dengan tampilnya prajurit wanita tersebut di medan
pertempuran menghadapi Bisma. Bisma merasa bahwa tiba waktunya maut menjemputnya, sesuai dengan
kutukan Dewi Amba yang tewas di tangan Bisma. Bisma gugur dengan perantaraan panah Hrudadali
milik Arjuna yang dilepaskan oleh istrinya, Srikandi.
Kutipan dari Kakawin Bharatayuddha ,Kutipan di bawah ini mengambarkan suasana perang di
Kurukshetra, yaitu setelah pihak Pandawa yang dipimpin oleh Raja Drupada menyusun sebuah barisan
yang diberi nama ―Garuda‖ yang sangat hebat untuk menggempur pasukan Korawa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar