Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 79

Rama menggempur Rawana ,Rawana yang tahu kerajaannya diserbu, mengutus para sekutunya
termasuk puteranya – Indrajit – untuk menggempur Rama. Nasihat Wibisana (adiknya) diabaikan dan ia
malah diusir. Akhirnya Wibisana memihak Rama. Indrajit melepas senjata
nagapasa dan memperoleh kemenangan, namun tidak lama. Ia gugur di
tangan Lakshmana. Setelah sekutu dan para patihnya gugur satu persatu,
Rawana tampil ke muka dan pertarungan berlangsung sengit. Dengan senjata
panah Brahmāstra yang sakti, Rawana gugur sebagai ksatria.
Setelah Rawana gugur, tahta Kerajaan Alengka diserahkan kepada
Wibisana. Sinta kembali ke pangkuan Rama setelah kesuciannya diuji.
Rama, Sinta, dan Lakshmana pulang ke Ayodhya dengan selamat. Hanuman
menyerahkan dirinya bulat-bulat untuk mengabdi kepada Rama. Ketika
sampai di Ayodhya, Bharata menyambut mereka dengan takzim dan
menyerahkan tahta kepada Rama.
BARATAYUDA ,Baratayuda, adalah istilah yang dipakai di Indonesia untuk menyebut perang besar di
Kurukshetra antara keluarga Pandawa melawan Korawa. Perang ini merupakan klimaks dari kisah
Mahabharata.
Sebab Peperangan ,Mahabharata, Baratayuda merupakan puncak perselisihan antara keluarga
Pandawa yang dipimpin oleh Puntadewa (atau Yudistira) melawan sepupu mereka, yaitu para Korawa
yang dipimpin oleh Duryudana.
Akan tetapi versi pewayangan menyebut perang Baratayuda sebagai peristiwa yang sudah ditetapkan
kejadiannya oleh dewata. Konon, sebelum Pandawa dan Korawa dilahirkan, perang ini sudah ditetapkan
akan terjadi. Selain itu, Padang Kurusetra sebagai medan pertempuran menurut pewayangan bukan
berlokasi di India, melainkan berada di Jawa, tepatnya di dataran tinggi Dieng. Dengan kata lain,
kisah Mahabharata menurut tradisi Jawa dianggap terjadi di Pulau Jawa.
Bibit perselisihan antara Pandawa dan Korawa dimulai sejak orang tua mereka masih sama-sama muda.
Pandu, ayah para Pandawa suatu hari membawa pulang tiga orang putri dari tiga negara, bernama Kunti,
Gendari, dan Madrim. Salah satu dari mereka dipersembahkan kepada Dretarastra, kakaknya yang
buta. Dretarastra memutuskan untuk memilih Gendari, kenapa yang dipilih Gendari? Karena sekali lagi
Dretarastra buta, ia tidak dapat melihat apapun, jadi ketika ia memilih ketiga putri itu yang dengan cara
mengangkat satu per satu, terpilih lah Gendari yang mempunyai bobot paling berat, sehingga Dretarastra
berpikir bahwa kelak Gendari akan mempunyai banyak anak, sama seperti impian Dretarastra. Hal ini
membuat putri dari Kerajaan Plasajenar itu tersinggung dan sakit hati. Gendari merasa ia tak lebih dari
piala bergilir. Ia pun bersumpah keturunannya kelak akan menjadi musuh bebuyutan anak-anak Pandu.
Gendari dan adiknya, bernama Sengkuni, mendidik anak-anaknya yang berjumlah seratus orang untuk
selalu memusuhi anak-anak Pandu. Ketika Pandu meninggal, anak-anaknya semakin menderita. nyawa
mereka selalu diincar oleh sepupu mereka, yaitu para Korawa. Kisah-kisah selanjutnya tidak jauh berbeda
dengan versi Mahabharata, antara lain usaha pembunuhan Pandawa dalam istana yang terbakar, sampai
perebutan Kerajaan Amarta melalui permainan dadu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar