Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 64

Alasan mereka cukup kuat. Di antaranya, bahwa seni wayang masih amat erat kaitannya dengan keadaan
sosiokultural dan religi bangsa Indonesia, khususnya orang Jawa. Panakawan, tokoh terpenting dalam
pewayangan, yakni Semar, Gareng, Petruk, Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia, dan
tidak di negara lain. Selain itu, nama dan istilah teknis pewayangan, semuanya berasal dari bahasa Jawa
(Kuna), dan bukan bahasa lain.
Sementara itu, pendapat kedua menduga wayang berasal dari India, yang
dibawa bersama dengan agama Hindu ke Indonesia. Mereka antara lain
adalah Pischel, Hidding, Krom, Poensen, Goslings, dan Rassers. Sebagian
besar kelompok kedua ini adalah sarjana Inggris, negeri Eropa yang pernah
menjajah India.
Namun, sejak tahun 1950-an, buku-buku pe-wayangan seolah sudah
sepakat bahwa wayang memang berasal dari Pulau Jawa, dan sama sekali
tidak diimpor dari negara lain.
Budaya wayang diperkirakan sudah lahir di Indonesia setidaknya pada
zaman pemerintahan Prabu Airlangga, raja Kahuripan (976 -1012), yakni
ketika kerajaan di Jawa Timur itu sedang makmur-makmur-nya.
Karya sastra yang menjadi bahan cerita wayang sudah ditulis oleh para
pujangga Indonesia, sejak abad X. Antara lain, naskah sastra Kitab
Ramayana Kakawin berbahasa Jawa Kuna ditulis pada masa pemerintahan raja Dyah Balitung (989-910).
Selanjutnya, para pujangga Jawa tidak lagi hanya menerjemahkan Ramayana dan Mahabarata ke bahasa
Jawa Kuna, tetapi menggubahnya dan menceritakan kembali dengan mengikutu falsafah Jawa
kedalamnya. Contohnya, karya Empu Kanwa Arjunawiwaha Kakawin, yang merupakan gubahan
yang berinduk pada Kitab Mahabarata.
Gubahan lain yang lebih nyata bedanya derigan cerita
asli versi In-dia, adalah Baratayuda Kakawin karya
Empu Sedah dan Empu Panuluh. Karya agung ini
dikerjakan pada masa pemerintahan Prabu Jayabaya,
raja Kediri (1130 - 1160).
Wayang sebagai suatu pergelaran dan tontonan pun
sudah dimulai ada sejak zaman pemerintahan raja
Airlangga. Beberapa prasasti yang dibuat pada masa
itu antara lain sudah menyebutkan kata-kata
"mawa-yang" dan `aringgit' yang maksudnya adalah
per-tunjukan wayang.
Batara Guru (juga disebut Bathara Guru dan Debata Batara Guru) adalah nama sesosok mahadewa dalam
beberapa mitologi Indonesia. Namanya berasal dari bahasa Sanskrit Bhattara yang berarti "tuan
terhormat" dan Guru, epitet dari Bá¹›haspati, seorang Dewa yang tinggal dan diidentifikasikan dengan
planet Jupiter.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar