Batara Guru dalam mitologi Jawa ,Menurut mitologi Jawa, Batara Guru merupakan Dewa serta
pewayangan yang merajai kahyangan, wilayah para dewa. Ia merupakan perwujudan dari dewa Siwa
yang mengatur wahyu, hadiah, dan berbagai ilmu. Batara Guru mempunyai sakti (istri) bernama Dewi
Uma dan mempunyai beberapa anak.
Betara Guru merupakan satu-satunya wayang kulit yang digambarkan dalam posisi menghadap ke depan,
ke arah manusia. Hal ini dapat dilihat dari posisi kakinya. Hanya saja karena berbentuk wayang, maka ia
menghadap ke samping. Wahana (hewan kendaraan) Batara Guru adalah sang lembu Nandini. Ia juga
dikenal dengan berbagai nama seperti Sang Hyang Manikmaya, Sang Hyang Caturbuja, Sang Hyang
Otipati, Sang Hyang Jagadnata, Nilakanta, Trinetra, dan Girinata.
Kelahiran ,Betara Guru (Manikmaya) diciptakan dari cahaya yang gemerlapan oleh Sang Hyang
Tunggal, bersamaan dengan cahaya yang berwarna kehitam-hitaman yang merupakan asal jadinya
Ismaya (Semar). Oleh Hyang Tunggal, diputuskanlah bahwa Manikmaya yang berkuasa di Suryalaya,
sedangkan Ismaya turun ke bumi untuk mengasuh para Pandawa.
Batara Guru memiliki dua saudara, Sang Hyang Maha Punggung dan Sang Hyang Ismaya. Orang tua
mereka adalah Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rekatawati. Suatu hari, Dewi Rekatawati menelurkan
sebutir telur yang bersinar. Sang Hyang Tunggal mengubah telur tersebut, kulitnya menjadi Sang Hyang
Maha Punggung yang sulung, putih telur menjadi Sang Hyang Ismaya (Semar), dan kuningnya menjadi
Sang Hyang Manikmaya. Kemudian waktu, Sang Hyang Tunggal menunjuk dua saudaranya yang lebih
tua untuk mengawasi umat manusia, terutama Pandawa, sementara Batara Guru (atau Sang Hyang
Manikmaya) memimpin para dewa di kahyangan.
Saat diciptakan, ia merasa paling sempurna dan tiada cacatnya. Hyang Tunggal mengetahui perasaan
Manikmaya, lalu Hyang Tunggal bersabda bahwa Manikmaya akan memiliki cacad berupa lemah di kaki,
belang di leher, bercaling, dan berlengan empat. Batara Guru amat menyesal mendengar perkataan
Hyang Tunggal, dan sabda dia betul-betul
terjadi.
Suatu ketika Manikmaya merasa sangat dahaga,
dan ia menemukan telaga. Saat meminum air
telaga itu—yang tidak diketahuinya bahwa air
tersebut beracun—lantas dimuntahkannya
kembali, maka ia mendapat cacad belang di
leher.
Diperhatikannya kalau manusia ketika lahir
amatlah lemah kakinya. Seketika, kakinya
terkena tulah, dan menjadi lemahlah kaki kiri
Manikmaya. Saat ia bertengkar dengan istrinya
Dewi Uma, dikutuknya Manikmaya oleh Dewi Uma, agar ia bercaling seperti raksasa, maka bercalinglah
Manikmaya. Sewaktu Manikmaya melihat manusia yang sedang sembahyang yang ba junya menutupi
tubuhnya, maka tertawalah Manikmaya karena dikiranya orang itu berlengan empat. Maka seketika
berlengan empatlah Manikmaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar