Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 63

Legenda pemindahan Meru ke Jawa ,Dalam kitab ini dikisahkan Batara
Guru (Shiwa) memerintahkan dewa Brahma dan Wishnu untuk mengisi
pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau Jawa saat itu masih mengambang
di lautan luas, terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, para dewa
memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan
Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong
gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular
naga raksasa yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura
sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau
yang mereka temui, yaitu di bagian barat pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu
mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian
mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan
gunung yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke
timur.
Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para
dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.
Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Penanggungan,
dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama
Gunung Semeru.
Pada saat Sang Hyang Shiwa datang ke pulau Jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau
tersebut dinamakan Jawa. Wisnu kemudian menjadi raja yang pertama yang berkuasa di pulau Jawa
dengan nama Kandiawan. Ia mengatur pemerintahan, masyarakat, dan keagamaan.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali yang bergunung-gunung sesuai dengan mitologi. Dalam
kepercayaan asli tentang Gunung Meru atau Mahameru yang dianggap sebagai tempat bersemayam dewa￾dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kahyangan.
Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman
Dewata, Hyang, dan mahluk halus. Selain itu legenda yang menyebutkan pulau Jawa yang kadang-kadang
terguncang dianggap sebagai cara pandang tradisional untuk
menjelaskan fenomena gempa bumi.
Wayang.Mengenai asal-usul wayang ini, di dunia ada dua
pendapat. Pertama, pendapat bahwa wayang berasal dan lahir
pertama kali di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur. Pendapat ini
selain dianut dan dikemukakan oleh para peneliti dan ahli-ahli
bangsa Indonesia, juga merupakan hasil penelitian sarjana￾sarjana Barat. Di antara para sarjana Barat yang termasuk
kelompok ini, adalah Hazeau, Brandes, Kats, Rentse, dan
Kruyt

Tidak ada komentar:

Posting Komentar