Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 62

dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian
upacara. Bale Bengong, disebut juga pewarengan suci
letaknya di antara jaba tengah/mandala madya, mandala
nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau
memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas
bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan
keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura
yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.
3. Ketiga.
Mandala Nista disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari
bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker
batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/ sisi memakai candi bentar dan pintu masuk
ke jeroan utama memakai Kori Agung.
Tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan
keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke
arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah
terbitnya matahari.
Beberapa struktur megalitik telah ditemukan di pulau Jawa, misalnya menhir, dolmen, meja batu, dan
piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Punden berundak dan menhir ditemukan di
situs megalitik di Paguyangan, Cisolok, dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang
juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus.
Punden berundak ini dianggap sebagai strukstur asli Nusantara dan merupakan rancangan dasar
bangunan candi Nusantara. Pada abad ke-4 SM hingga abad ke-1 atau ke-5 M Kebudayaan Buni yaitu
kebudayaan tembikar tanah liat berkembang di pesisir utara Jawa Barat. Kebudayaan protosejarah ini
merupakan pendahulu kerajaan Tarumanagara.
Pulau Jawa yang sangat subur dan bercurah hujan tinggi
memungkinkan berkembangnya budidaya padi di lahan
basah, sehingga mendorong terbentuknya tingkat kerjasama
antar desa yang semakin kompleks. Dari aliansi-aliansi desa
tersebut, berkembanglah kerajaan-kerajaan kecil. Jajaran
pegunungan vulkanik dan dataran-dataran tinggi di
sekitarnya yang membentang di sepanjang pulau Jawa
menyebabkan daerah-daerah interior pulau ini beserta
masyarakatnya secara relatif terpisahkan dari pengaruh luar.
Tantu Pagelaran atau Tangtu Panggelaran adalah kitab
Jawa kuno berbahasa Kawi yang berasal dari masa
Majapahit sekitar abad ke-15. Kitab ini berkisah tentang
mitos asal mula pulau Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar