Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 60

Asal mula nama "Jawa" dapat dilacak dari kronik berbahasa Sanskerta yang menyebut adanya pulau
bernama yavadvip(a) (dvipa berarti "pulau", dan yava berarti "jelai" atau juga "biji-bijian"). Apakah biji￾bijian ini merupakan jewawut (Setaria italica) atau padi)], keduanya telah banyak ditemukan di pulau ini
pada masa sebelum masuknya pengaruh Indi.
Boleh jadi, pulau ini memiliki banyak nama sebelumnya, termasuk kemungkinan berasal dari kata jaú
yang berarti "jauh".. Yavadvipa disebut dalam epik India, Ramayana. Sugriwa, panglima wanara
(manusia kera) dari pasukan Sri Rama, mengirimkan utusannya ke Yavadvip ("Pulau Jawa") untuk
mencari Dewi Shinta. Kemudian berdasarkan kesusastraan India terutama pustaka Tamil, disebut nama
Sanskerta yāvaka dvīpa (dvīpa = pulau).
Untuk mengetahui cikal bakal budaya asli bangsa Indonesia adalah peradaban yang memuja Matahari
yaitu peradaban besar Saba,kita akan mempelajari kebudayaan yang masih asli,selain Sunda Wiwitan
yaitu budaya yang secara tradisional telah berhasil meng isolir diri terhadap pengaruh budaya yang
lain,jika pun terdapat ke samaan dengan budaya yang mempengaruhi nya kita dapat dengan jelas
membedakan nya antara yang asli dan yang sudah terpengaruh.
BUDAYA TENGGER ,Hari Raya Yadya Kasada adalah sebuah hari upacara sesembahan berupa
persembahan sesajen kepada Sang Hyang Widhi. Setiap bulan Kasada hari-14 dalam Penanggalan Jawa
diadakan upacara sesembahan atau sesajen untuk Sang Hyang Widhi dan para leluhur, kisah Rara
Anteng (Putri Raja Majapahit) dan Jaka Seger (Putra Brahmana) "asal mula suku Tengger di ambil dari
nama belakang keduanya", pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian
memerintah di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, yang
mempunyai arti ―Penguasa Tengger yang Budiman‖.
Mereka tidak di karunia anak sehingga mereka melakukan semedi atau bertapa kepada Sang Hyang
Widhi, tiba-tiba ada suara gaib yang mengatakan bahwa semedi mereka akan terkabul namun dengan
syarat bila telah mendapatkan keturunan, anak yang bungsu
harus dikorbankan ke kawah Gunung Bromo.
Pasangan Roro Anteng dan Jaka Seger menyanggupinya dan
kemudian didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri
orangtua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra-putrinya.
Pendek kata pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger ingkar
janji, Dewa menjadi marah dengan mengancam akan
menimpakan malapetaka, kemudian terjadilah prahara
keadaan menjadi gelap gulita kawah Gunung Bromo
menyemburkan api.
Kesuma, anak bungsunya lenyap dari pandangan terjilat api
dan masuk ke kawah Bromo, bersamaan hilangnya Kesuma terdengarlah suara gaib, "Saudara-saudaraku
yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orangtua kita dan Sang Hyang Widhi menyelamatkan kalian
semua. Hiduplah damai dan tenteram, sembahlah Sang Hyang Widhi. Aku ingatkan agar kalian setiap
bulan Kasada pada hari ke-14 mengadakan sesaji kepada Sang Hyang Widhi di kawah Gunung Bromo".
Kebiasaan ini diikuti secara turun temurun oleh masyarakat Tengger dan setiap tahun diadakan upacara
Kasada di Poten lautan pasir dan kawah Gunung Bromo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar