Karangagung (Palembang), Batujaya, Cibuaya (Jawa Barat) , Sembiran (Bali), dan Takalar (Sulawesi
Selatan).
R.M. Ng. Poerbatjaraka (1952) menafsirkan rangkaian huruf Pallawa berbahasa Sanskerta yang tercatat
pada yupa tentang silsilah raja-raja yang pernah berkuasa pada masa-masa awal Kerajaan Kutai
Martapura dalam terjemahan bebas sebagai berikut:
Sang Maharaja Kundunga yang teramat mulia mempunyai putra yang masyhur, Sang Aswawarman
namanya, yang seperti Sang Ansuman (Dewa Matahari) yang menumbuhkan keluarga yang sangat
mulia. Sang Aswawarman mempunyai tiga orang putra seperti tiga api yang suci. Yang terkemuka dari
ketiga putra tersebut adalah Sang Mulawarman, raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang
Mulawarman telah mengadakan upacara selamatan yang menggunakan emas yang sangat banyak.
Sebagai peringatan upacara itu didirikan tugu batu oleh para brahmana (Poerbatjaraka, 1952:9).
Prasasti berikutnya yang termaktub pada yupa yang lain semakin menegaskan ketiga kesimpulan yang
dirumuskan dari prasasti yang telah dibahas di atas. Berikut terjemahan bebas dari isi prasasti pendukung
tersebut:
Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah sebanyak 20.000 ekor sapi
kepada para brahmana yang seperti api, bertempat di dalam tanah yang sangat suci yang bernama
Waprakeswara. Sedekah tersebut merupakan suatu peringatan akan kebaikan budi sang raja itu. Tugu ini
telah didirikan oleh para brahmana yang datang ke tempat ini (Poerbatjaraka, 1952:11).
Kebesaran Maharaja Mulawarman ditegaskan kembali dalam prasasti di atas dengan memberi sedekah
sebanyak 20.000 ekor sapi kepada kaum brahmana. Di sisi lain, kaum brahmana pun menyematkan
rasa hormat yang sangat besar kepada Maharaja Mulawarman dengan membangun tugu batu sebagai
monumen peringatan akan kebaikan hati sang raja.
Masih terdapat sejumlah penemuan lainnya yang setidaknya dapat memberi sedikit informasi mengenai
peradaban kerajaan yang pernah eksis di wilayah Kutai. Salah satu penemuan
itu adalah ditemukannya sebuah kalung Ciwa (Syiwa) di sekitar Danau Lipan
yang lokasinya termasuk di kawasan Muara Kaman. Bahkan, berdasarkan hasil
penemuan terbaru yang dilakukan oleh Tim Ekspedisi Kalimantanthrope
dalam penyelidikannya yang berakhir pada tanggal 20 Juni 2001, ditemukan
lukisan pada dinding-dinding goa di kawasan Gunung Marang, sekitar 400
kilometer di sebelah utara Balikpapan, beserta pecahan-pecahan perkakas
tembikar dan sejumlah makam (Prihananto, Kompas, 3 November 2004).
Dalam artikel di harian umum Kompas yang ditulis oleh Prihananto (2004)
dengan judul ―Sejarah kita berawal dari Kutai‖, disebutkan bahwa dari
penggalian di lokasi situs sejarah Kerajaan Kutai di Muara Kaman juga
ditemukan berbagai artefak, seperti sisa-sisa atau reruntuhan candi berupa
peripih, manik-manik, gerabah, patung perunggu, dan keramik yang sangat
indah. Benda-benda cagar budaya tersebut diduga berasal dari masa prasejarah
dan diperkirakan telah berusia lebih dari 10.000 tahun (Prihananto, Kompas,
3 November 2004).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar