Pada masa prasejarah sampai protosejarah, masyarakat Pedes kuna merupakan bagian dari komunitas
masyarakat yang mengusung budaya komplek tembikar Buni yakni satu komunitas masyarakat
prasejarah yang menghasilkan tembikar dengan pola hias khas Buni, yang hidup di sepanjang pantai
utara Jawa Barat mulai dari daerah Banten sampai Cirebon.
Hal ini didasarkan pada temuan sejumlah kerangka manusia yang disertai dengan sejumlah bekal kubur di
antaranya yang paling umum adalah wadah tembikar. Wadah tembikar yang paling dominan adalah
bentuk wadah berupa periuk kecil (kendil) berdiameter antara 10-15 cm beserta tutupnya, piring dengan
bibir tepian tegak, dan mangkuk. Wadah-wadah tembikar ini menurut informasi
ada yang berisi manik-manik. Wadah-wadah ini diletakkan di bagian kepala atau bagian kaki dari
kerangka. Selain wadah tembikar, biasanya dibekali pula dengan senjata tajam berupa parang, pisau atau
tombak. Yang menarik bagi sebagian kerangka diberi perhiasan berupa kalung, cincin, penutup mata dan
gelang . Kalung terbuat dari manik-manik emas dan manik-manik kaca. Hal ini menandakan adanya
stratifikasi sosial dalam masyarakat pendukung Tembikar Buni.
Temuan berupa bandul jala, Kapak batu, dan tatap pelandas memberi informasi bahwa masyarakat
tembikar Buni bermata pencaharian sebagai nelayan, mereka juga telah mengenal bercocok tanam dan
sebagian telah memiliki keahlian membuat wadah-wadah tembikar dengan teknologi tatap pelandas.
Selain itu mereka telah memiliki keahlian membuat alat-alat
logam dan manik-manik. Pembuatan.
Adanya kontak-kontak dengan dunia luar pada masa
protosejarah (mungkin sejak masa prasejarah) diketahui dari
sejumlah tinggalan manik-manik. Di Asia Tenggara,
perdagangan manik-manik tertua mulai sekitar 400 SM dan
Arikamedu telah dikenal sebagai pusat produksi manik-manik
yang diekspor ke Asia Tenggara. Arikamedu sebagai pusat
penghasil manik-manik ini berlangsung sampai abad ke-3 M,
kemudian pusat-pusat produksi tersebut berpindah ke Asia
Tenggara seperti Klong Thom (Thailand Selatan) dan Oc-eo (Viernam) dan Mantai (Srilangka).
Selain manik-manik kaca, bahan kaca, manik batu karnelian, Tembikar kasar India juga termasuk temuan
yang cukup penting. Tembikar-tembikar ini dibawa oleh para pendatang sebagai alat keperluan seharihari dan tidak diperdagangan. Tembikar-tembikar kasar India
(Arikamedu) telah diperoduksi sekitar akhir abad ke-1 sebelum
masehi sampai awal abad ke 1 Masehi atau abad ke 2 M.
Adanya jalur perdagangan India - Asia Tenggara termasuk
Nusantara didukung oleh catatan Clodius Ptolomeaus dari
abad ke-2-3 Masehi yang membuat peta perjalanan dengan
menyebut beberapa tempat di Indonesia terutama di dekat Selat
Sunda Sebenarnya jalur perdagangan India- Asia Tenggara
merupakan jalur pengembangan dari jalur Mediterania – India.
Jalur perdagangan ini menghubungkan sejumlah situs-situs dari masa protosejarah sampai masa sejarah.
Terdapat sejumlah situs-situs protosejarah di Indonesia antara lain situs Kota Kapur, Air Sugihan,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar