Senin, 03 Oktober 2016

Hal 57

udara, pada siang hari tanpa matahari, pada purnama tanpa bulan, pada tiupan tanpa angin, pada cahaya
tanpa bayangan, pada angkasa tanpa langit, pada kodrat tanpa kehidupan).
Salah satu kelompok penghuni buana niskala teridentifikasi berwujud jenis wanita, seperti dewi, apsari,
bidadari. Hakikat kewanitaan, menurut naskah ini, adalah kekuasaan yang berada di tangan Sang Hyang
Sri dengan ciri-cirinya, ―Ti nu wisisa leuwih, ti nu leuwih bidito, ti nu bidito hurip, ti nu hurip adras, ti nu
adras indah, ti nu indah alit, ti nu alit niskala, ti nu niskala rampis, ti nu rampis diwa ta, ti nu diwata.‖
(Dari yang berkuasa unggul, dari yang unggul mengasuh, dari yang mengasuh sejahtera, dari yang
sejahtera tak tampak, dari yang tak tampak indah, dari yang indah halus, dari yang halus gaib, dari yang
gaib sempurna, dari yang sempurna bersifat kedewaan, dari yang bersifat kedewaan).
Di dalamnya diungkapkan pula tentang makna benar. Bahwa benar itu
artinya, jika, ―Bayu dibaywan deui, sabda disabdaan deui, hdap dihdapan
deui, hurip dihuripan deui, hirang dihirangan deui, jati dijatyan deui, niskala
diniskalaan deui, alit dialitan deui, lenyep dilenyepkeun deui, talinga
ditalingakeun deui, leumpang dileumpangkeun deui, geuing digeuingkeun
deui.‖ (Kekuatan diper kuat lagi, ucapan diucapkan lagi, perasaan dirasakan
lagi, hidup dihidupkan lagi, jernih dijernihkan lagi, sejati disejatikan lagi,
kegaiban digaibkan lagi, halus dihaluskan lagi, lenyap dilenyapkan lagi,
pengawasan diawasi lagi, berjalan diberjalankan lagi, sadar disadarkan lagi).
Berdasarkan seluruh uraian di atas tampak bahwa konsep kosmologi Sunda Kuna bukan hanya
dimaksudkan untuk pengetahuan semata-mata mengenai struktur jagat raya, melainkan lebih ditujukan
sebagai media agar kehidupan manusia jelas tujuan akhir-nya, yaitu kebahagiaan dan ketenteraman
hidup di buana niskala dan buana jatiniskala yang abadi.
Menurut Penulis Ajaran Sunda Wiwitan sebaga ajaran asli Nusantara ,tergambar semua dalam
perwujudan pada Candi,Terutama candi Borobudur,Disini jelas menerangkan bahwa ajaran Asli
Nusantara yang masih kita bisa ketahui dari ajaran Asli Sunda Wiwitan adalah ajaran yang mendasari
ajaran yang ada di India.
Di kutip dari tulisan situs web, Oleh EDI S. EKADJATI – Pikiran Rakyat, Kamis, 2 Juni 2005
Penulis Ketua Badan Pengurus Pusat Studi Sunda dan Guru Besar pada Jurusan Sejarah Fakultas Sastra
Unpad.
Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan dapat diambil beberapa kesimpulan awal antara lain; Areal
penggalian yang dilakukan merupakan sebuah komplek kubur dari periode prasejarah akhir atau awal
masehi. Periode ini lebih dikenal dengan istilah masa protosejarah, yakni masa dimana masyarakat lokal
belum mengenal tulisan tetapi daerah ini telah dikenal, didatangi dan dicatat oleh masyarakat
internasional serta telah terjadi kontak yang cukup intensif dengan mereka. Kitab Arthasastra dan Sanka
Jataka yang diperkirakan berasal dari abad ke-3 sebelum masehi menyebut nama Suvarnabhumi. Kitab
Maha Nidesa yang juga berasal dari abad ke-3 sebelum masehi menyebutkan nama tempat seperti Java
dan Suvarnabhumi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar