Senin, 03 Oktober 2016

Hal 56

merampok, suka membunuh orang suci, memeras yang tak berdosa, iri dengki melukai memukul, berani
mengawali berutang).
Adapun berbagai kenikmatan dunia antara lain lumut rumput dan berbagai umbi, berbagai dedaunan tak
pernah kurang, ilalang arak dan berbagai buah-buahan (lukut jukut sarba beuti, tangtarukan tada kurang,
kusa madi sarba pala).
Adapun ciri dan sifat kehidupan di buana niskala dan buana jatiniskala, tempat tinggalnya para dewa￾dewi, batara-batari, Sanghyang Manon, dan makhluk halus lainnya mencerminkan kehidupan tingkat
tinggi yang tak dibatasi oleh keperluan dan kepentingan duniawiah, sebagaimana diutarakan pada teks
Kropak 422 yang berjudul Jatiraga.
Penjelmaan yang paling sempurna, menurut naskah ini, adalah umat manusia. Karenanya manusia
diwajibkan untuk berusaha berbuat amal kebaikan agar kelak sukmanya bisa kembali ke kodrat sejati di
Kahyangan (surga). Sementara manusia yang terlalu terbawa nafsu angkara murka, akan menjadi raksasa
serakah, tamak, dan rakus terhadap hak-hak yang lain. Sukma mereka hanya bisa kembali ke alam niskala
sebagai penghuni neraka. Kalaupun mendapat keringanan dari penjaga neraka, sukma itu harus
mengalami reinkarnasi di bumi sakala yang bisa jadi derajatnya lebih rendah dari manusia.
Bahwa yang berada di buana jatiniskala itu (Si Ijunajati) terlalu tangguh dan kuasa, karena dia adalah
pemilik keesaan, kebijakan, kekuasaan, kesentosaan, pengabdian, tenaga, ucapan, dan nuraninya sendiri.
Rumusannya adalah, ―Ah ini Si Ijunajati. Ah lain kasorgaanna, Sang Hyang Tunggal Premana. Muku
ita leuwih, ja tunggal tunggal aing, premana premana aing, muku ita leuwih, ja wisisa wisisa aing, muku
ita leuwih teuing, ja hurip hurip aing, tapa tapa aing, bayu bayu aing, sabda sabda aing, hdap hdap aing.‖
Ah inilah Si Ijunajati.
Ah bukan surga yang dikuasai oleh, Sang Hyang Tunggal Premana. Kalaulah itu tangguh, sebab keesaan
keesaanku sendiri, kebijakan kebijakanku sendiri, kalaulah itu unggul, sebab kekuasaan kekuasaanku
sendiri, kalaulah itu terlalu berkuasa, sebab kesentosaan kesentosaanku sendiri, pengabdian pengabdianku
sendiri, tenaga tenagaku sendiri, ucapan ucapanku sendiri, nurani nuraniku
sendiri).
―Ah wisisa teuing aing, hamwa waya nu wisisa manan aing, hamwa waya nu
leuwih manan aing, hamwa waya nu diwata manan aing, tika hanteu nu
ngawisisa aing, ka pangikuna aci jatinistmen.‖ (Ah begitu berkuasanya aku,
tak mungkin ada yang berkuasa melebihi aku, tak mungkin ada yang unggul
melebihi aku, tak mungkin ada yang suci lebih dariku, sehingga mustahil ada
yang menguasaiku, sebagai pengikut hakikat kebenaran sejati).
Batara Jatiniskala berkuasa di mana-mana dan wujud kekuasaannya luar
biasa sehingga, ―Wijaya ta sira hasta, na bumi tan hana pretiwi, na dalem tan hana angkasa, na rahina tan
hana aditya, na candra tan hana wulan, na maruta tan hana angin, na tija tan hana maya, na akasa tan hana
pemaga, na jati tan hana urip.‖ (Berhasillah dia memerintah, pada bumi tanpa tanah, pada ruangan tanpa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar