dikemukakan ciri-ciri dan sifat kehidupan di buana niskala dan buana jatiniskala yang menggiring
manusia agar memilih jalan ideal yang lurus menuju buana niskala yang berupa surga yang
menyenangkan, bahkan buana jatiniskala yang paling tinggi derajatnya.
Kropak 420 membuka penuturannya dengan pernyataan dan pertanyaan, ―Lampah tunggal na rasa
ngeunah, paduum na bumi prelaya, maneja naprewasa, ka mana eta ngahingras?‖ (Berjalan teriring rasa
senang, saling bagi saat dunia binasa, tembus memancarkan sinar. Ke manakah harus meminta tolong?).
Jawaban atas pertanyaan tersebut dijelaskan oleh Pwah Batara Sri, penghuni Kahyangan (buana niskala),
―Ka saha geusan ngahiras, di sakala di niskala, manguni di kahyangan, mo ma dina laku tuhu, na jati
mahapandita,‖ (Kepada siapakah mohon pertolongan, baik di sakala maupun di niskala, terlebih lagi di
kahyangan, kecuali dalam perilaku setia, pada kodrat mahapandita).
Mahapandita adalah pandita (pemimpin/ahli agama) yang hidup di bumi sakala dan paling tinggi
tingkatannya. Ia mengemukakan ciri-ciri kehidupan di bumi sakala bahwa, ―Samar ku rahina sada,
kapeungpeuk ku langit ageung, kapindingan maha linglang, ja kaparikusta ku tutur, karasa ku sakatresna,
kabita ku rasa ngeunah, kawalikut ku rasa kahayang, bogoh ku rasa utama, beunang ku rasa wisisa.‖
(Samar oleh keadaan pagi hari, tertutup oleh langit yang luas, terhalangi keluasan langit sebab terjebak
oleh cerita, terasa oleh segala kecintaan, tergiur oleh rasa nikmat, tergugah lagi oleh keinginan, senang
oleh perasaan luar biasa, terpikat oleh perasaan mulia).
Ajaran moral keagamaan dibahas dalam bentuk dialog antara pendeta utama dengan Pwah Batara Sri
(penguasa alam Kahyangan) dan Pwah Sanghyang Sri (penjaga alam kasurgaan). Ditekankan bahwa
setiap makhluk yang ada di jagat raya, baik di bumi sakala maupun di buana niskala, hendaknya mampu
menjalankan tugasnya masing-masing sesuai dengan kadar bayu (kekuatan), sabda (suara), dan hedap
(iktikad) yang diterima dari Sang Pencipta. Manusia pun hendaknya mampu menyeimbangkan bayu,
sabda, dan hedapnya masing-masing melalui berbagai kegiatan tapa (pengabdian) lahir dan batin agar
kelak bisa kembali ke kodratnya bagaikan dewa.
Selain itu, dalam melaksanakan Tapa manusia hendaknya diiringi oleh penuh rasa keikhlasan, jangan
rakus, jangan mengambil hak yang lain supaya tidak tersesat kembali ke bumi sakala dan mengalami
sengsara. Apabila hendak berbuat kebajikan, janganlah setengah hati! Itulah
kodrat pendeta dan hakikat pertapaannya yang dilakukan tak kenal siang dan
malam. Perhatikanlah orang yang benar! Carilah orang yang menjalankan tapa!
Semoga berhasil berbuat kebaikan.
Janganlah menjalankan tapa yang salah! Yaitu tapanya orang yang suka
menyiksa badan, berlebihan dalam hal kekuasaan, terperdaya oleh isi hati, dan
tersesat karena berahi. Itulah perilaku yang tak bermanfaat. Menjadi pendeta,
janganlah hanya mengaku-aku, melainkan hendaknya disertai kekuasaan sejati.
Nasihat pendeta utama yang lain adalah ―Mulah cocolongan bubunian, jadi budi nupu manglahangan,
ngagetak ngabigal, mati-mati uwang sadu, ngajaur nu hanteu dosa, hiri dengki nata papag, pregi ngajuk
ngajalanan,‖ (Janganlah mencuri sembunyi-sembunyi, berpikiran tamak menghalangi, menggertak
Tidak ada komentar:
Posting Komentar