unsur inti alam (Api, Udara, Air, Tanah) yang memancar menjadi ―gunung‖ sebagai sumber kehidupan
mahluk.
Menilik bentuk-bentuk simbolik serta orientasi pemujaannya maka dapat dipastikan bahwa piramida di
wilayah Mesir-pun sesungguhnya merupakan kuil Matahari (Sundapura). Walaupun sebagian ahli
sejarah mengatakan bahwa piramid itu adalah kuburan para raja namun perlu dipahami bahwa raja-raja
Mesirkuno dipercaya sebagai; Keturunan Matahari/ Utusan Matahari/ Titisan Matahari/ ataupun Putra
Matahari, dengan demikian mereka setara dengan ―Putra Sunda‖(Utusan Sang Hyang Tunggal).
Untuk sementara istilah ―Putra Sunda‖ bagi para raja Mesir kuno dan yang lainnya tentu masih
terdengar janggal dan aneh sebab selama ini sebutan ―Sunda‖ selalu dianggap sebagai suku, ras maupun
wilayah kecil yang ada di pulo Jawa bagian barat saja, istilah ―Sunda‖ seolah tidak pernah terpahami oleh
bangsa Indonesia pun oleh masyarakat Jawa Barat sendiri.
Tidak diketahui waktunya secara tepat, Sang Narayana Galuh Hyang Agung (Galunggung)
mengembangkan dan mengokohkan ajaran Sunda di Jepang, dengan demikian RA atau Matahari begitu
kental dengan kehidupan masyarakat Jepang, mereka membangun tempat pemujaan bagi Matahari yang
disebut sebagai Kuil Nara (Na-Ra / Api-Matahari) dan masyarakat Jepang dikenal sebagai pemuja Dewi
Amate-Ra-Su Omikami yang digambarkan sebagai wanita bersinar (Astra / Aster / Astro / Astral /
Austra).
Tidak hanya itu, penguasa tertinggi ―Kaisar Jepang‖ pun dipercaya sebagai titisan Matahari atau Putra
Matahari (Tenno) dengan kata lain para kaisar Jepang-pun bisa disebut sebagai ―Putra Sunda‖ (Anak/
Utusan/ Titisan Matahari) dan hingga saat ini mereka mempergunakan Matahari sebagai lambang
kebangsaan dan kenegaraan yang dihormati oleh masyarakat dunia.
Dikemudian hari Jepang dikenal sebagai negeri ―Matahari Terbit‖ hal ini disebabkan karena Jepang
mengikuti jejak ajaran leluhur bangsa Nusantara, hingga pada tahun 1945 ketika pasukan Jepang masuk
ke Indonesia dengan misi ―Cahaya Asia‖ mereka menyebut Indonesia sebagai ―Saudara Tua‖ untuk
kedok politiknya.
Secara mendasar ajaran para leluhur bangsa Galuh dapat diterima di seluruh bangsa (negara) karena
mengandung tiga pokok ajaran yang bersifat universal (logis dan realistis), tanpa tekanan dan paksaan
yaitu :
Pembentukan nilai-nilai pribadi manusia (seseorang) sebagai landasan pokok pembangunan kualitas
keberadaban sebuah bangsa (masyarakat) yang didasari oleh nilai-nilai welas-asih (cinta-kasih).
Pembangunan kualitas sebuah bangsa menuju kehidupan bernegara yang adil-makmur-sejahtera dan
beradab melalui segala sumber daya bumi (alam/ lingkungan) di wilayah masing-masing yang dikelola
secara bijaksana sesuai dengan kebutuhan hidup sehari-hari.
Pemeliharaan kualitas alam secara selaras yang kelak menjadi pokok kekayaan atau sumber daya utama
bagi kehidupan yang akan datang pada sebuah bangsa, dan kelak berlangsung dari generasi ke generasi
(berkelanjutan).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar