dalam bidang arsitektur, cara berpakaian, sistem komunikasi (baik bentuk lisan, tulisan, gaya bahasa, serta
gambar), adab upacara, dll. Kemajuan dalam bidang pertanian dan peternakan tentu saja yang menjadi
yang paling utama, sebab hal tersebut menunjukan kemakmuran masyarakat, artinya mereka dapat hidup
sejahtera tentram dan damai dalam kebersamaan hingga kelak mampu melahirkan keindahan dan
keagungan dalam berkehidupan (berbudaya).
Sekitar abad ke XV kebudayaan agung bangsa Amerika latin mengalami keruntuhan setelah datangnya
para missionaris Barat yang membawa misi Gold, Glory dan Gospel. Tujuan utamanya tentu saja Gold
(emas/ kekayaan) dan Glory (kejayaan/ kemenangan) sedangkan Gospel (agama) hanya dijadikan sebagai
kedok politik agar seolah-olah mereka bertujuan untuk ―memberadabkan‖ sebuah bangsa.
Propaganda yang mereka beritakan tentang perilaku biadab agama Matahari dan kelak dipercaya oleh
masyarakat dunia adalah bahwa; ―suku terasing penyembah matahari itu pemakan manusia‖, hal ini mirip
dengan yang terjadi di Sumatra Utara serta wilayah lainnya di Indonesia. Dibalik propaganda tersebut
maksud sesungguhnya kedatangan para ‗penyebar agama‘ itu adalah perampokan kekayaan alam dan
perluasan wilayah jajahan(imperialisme), sebab mustahil bangsa yang sudah ―beragama‖ harus
‗diagamakan‘ kembali dengan ajaran yang tidak berlandas kepada nilai-nilai kebijakan dan kearifan
lokalnya.
Dalam pandangan penganut agama Sunda (bangsa Galuh) yang
dimaksud dengan ―peradaban sebuah bangsa (negara)‖ tidak diukur
berdasarkan nilai-nilai material yang semu dan dibuat-buat oleh
manusia seperti bangunan megah, emas serta batu permata dan lain
sebagainya melainkan terciptanya keselarasan hidup bersama alam
(keabadian). Prinsip tersebut tentu saja sangat bertolak-belakang
dengan negara-negara lain yang kualitas geografisnya tidak sebaik
milik bangsa beriklim tropis seperti di Nusantara dan negara tropis
lainnya.
Leluhur Galuh mengajarkan tentang prinsip kejayaan dan kekayaan
sebuah negara sebagai berikut :
“Gunung kudu pageuh, leuweung kudu hejo, walungan kudu herang,
taneuh kudu subur, maka bagja rahayu sakabeh rahayatna”
(Gunung harus kokoh, hutan harus hijau, sungai harus jernih, tanah harus subur, maka tentram damai
sentausa semua rakyatnya)
―Gunung teu meunang dirempag, leuweung teu meunang dirusak‖
(Gunung tidak boleh dihancurkan, hutan tidak boleh dirusak)
Kuil (tempat peribadatan) pemujaan Matahari hampir seluruhnya dibangun berdasarkan pola bentuk
―gunungan‖ dengan landasan segi empat yang memuncak menuju satu titik. Boleh jadi hal tersebut
berkaitan erat dengan salah satu pokok ajaran Sunda dalam mencapai puncak kualitas bangsa (negara)
seperti Matahari yang bersinar terang, atau sering disebut sebagai ―Opat Ka Lima Pancer‖ yaitu; empat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar