Selasa, 04 Oktober 2016

Hal 48.Benarkah Borobudur candi Buddha...?

 RA = Sinar/ Maha Cahaya/ Matahari
- YANA = way of life/ ajaran/ ageman/ agama
Maka arti ―Surayana‖ adalah sama dengan ―Agama Matahari yang Sejati‖ dan dikemudian hari
bangsa Indonesia mengenal dan mengabadikannya dengan sebutan ―Sang Surya‖ untuk mengganti istilah
―Matahari‖.
Perobahan istilah ―Sunda‖,5.000 tahun sebelum penanggalan Masehi di Asia dalam sejarah peradaban
bangsa Mesir kuno menerangkan (menggambarkan) tentang keberadaan ajaran Matahari dari bangsa
Galuh, mereka menyebutnya sebagai ―RA‖ yang artinya adalah Sinar/ Astra/ Matahari/ Sunda.
―RA‖ digambarkan dalam bentuk ―mata‖ dan diposisikan sebagai ―Penguasa Tertinggi‖ dari seluruh
‗dewa-dewa‘ bangsa Mesir kuno yang lainnya, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bangsa Mesir
kuno-pun menganut dan mengakui Sundayana (Agama Matahari) yang dibawa dan diajarkan oleh
leluhur bangsa Galuh yaitu SABA.
Disisi lain bangsa Indonesia saat ini mengenal bentuk dan istilah ―mata‖ (eye) yang mirip dengan
gambaran ―AMON-RA‖ bangsa Mesir kuno, sebutan ―amon‖ mengingatkan kita kepada istilah―panon‖
yang berarti ―mata‖ yang terdapat pada kata ―Sang Hyang Manon‖ yaitu penamaan lain bagi Matahari di
masyarakat Jawa Barat jaman dahulu .
Selain di Asia (Mesir) bangsa Indian di Amerika-pun sangat memuja
Matahari (sebagai simbol leluhur, dan mereka menyebut dirinya sebagai
bangsa ―kulit merah‖) bahkan masyarakat Inca, Aztec dan Maya di daerah
Amerika latin membangun kuil pemujaan yang khusus ditujukan bagi
Matahari, hingga mereka menggunakan pola penghitungan waktu yang
berlandas pada peredaran Matahari, mirip dengan di Nusantara (pola
penanggalan Saka = Pilar Utama = Inti / Pusat Peredaran = Matahari).
Masyarakat suku Inca di Peru (Amerika Latin) membangun tempat
pemujaan kepada Matahari di puncak bukit yang disebut Machu Picchu.
Dalam hal ini terlihat jelas bahwa secara umum konsep ―meninggikan
dengan pondasi yang kokoh‖ dalam kaitannya dengan ―keagungan―
(tinggi, luhur, puncak, maha) merupakan landas berpikir yang utama
agama Sunda.
Secara filosofis, pola bentuk ‗bangunan‘ menuju puncak meruncing (gunungan) itu merupakan
perlambangan para Hyang yang ditinggikan atau diluhurkan, hal inipun merupakan silib-siloka tentang
perjalanan manusia dari ―ada‖ menuju ―tiada‖ (langit), dari jelma menjadi manusia utama hingga kelak
menuju puncak kualitas manusia adiluhung (maha agung).
Demikian pula yang dilakukan oleh suku Maya di Mexico pada jaman dahulu, mereka secara khusus
membangun tempat pemujaan (kuil/pura) kepada Matahari (Sang Hyang Tunggal).
Pada jaman dahulu hampir seluruh bangsa di benua Amerika (penduduk asli) memuja kepada Matahari,
dan hebatnya hampir semua bangsa menunjukan hasil kebudayaan yang tinggi. Kemajuan peradaban

Tidak ada komentar:

Posting Komentar