Inti pola dasar ajaran Sunda adalah ―berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa welasasih‖. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu
‗ukuran‘ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :
Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga serta di
lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar ―Manusia Utama‖.
Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan negara,
manusianya bergelar ―Manusia Unggul Paripurna‖ (menjadi idola).
Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri kehidupan
baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak tersentuh, segala
kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar ―Manusia Adi Luhung‖ (Batara
Guru)
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok
ajaran ―Budhi-Dharma‖ (Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai
bukti dan bakti rasawelas-asih terhadap segala kehidupan untuk mencapai
kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh
Mahaguru Rasi Shakyamuni – Sidharta Gautama (‗Sang Budha‘), seorang
putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Sunda dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan tingkatan
umurnya yaitu :
1. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami ―rasa‖ (kelembutan) di dalam
segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan ―ngarasa jeung rumasa‖ (menyadari rasa
dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat
menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan
yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat
―welas-asih‖ dan manusianya kelak disebut ―Dewa-Sa‖.
2. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa
di dalam hidup sehari-hari (bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat
diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan ―ngaraga jeung
ngawaruga‖(menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan
perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran. Seseorang yang telah
mencapai tingkatan ini disebut ―Dewa-Ta‖.
3. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan ―Jati Diri‖ sebagai manusia
―welas-asih‖ yang seutuhnya dalam segala perilaku kehidupan ―memberi tanpa diberi‖ atau
memberi tanpa menerima (tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat
manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua pihak serta layak
disebut (dijadikan) pemimpin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar