Catatan Plato mengenai Atlantis juga telah menginspirasi beberapa imitasi parodik: hanya beberapa
dekade setelah Timaeus dan Critias, sejarawan Theopompus dari Chios menulis mengenai wilayah yang
disebut Meropis. Deskripsi wilayah ini ada pada Buku 8 Philippica, yang berisi dialog antara Raja Midas
dan Silenus, teman dari Dionysus. Silenus mendeskripsikan Bangsa Meropid, ras manusia yang tumbuh
dua kali dari ukuran tubuh biasa, dan menghuni dua kota di Pulau Meropis (Cos): Eusebes (Εὐσεβής,
"kota Pious") dan Machimos (Μάχιμος, "kota-Pertempuran")
Meropis dalam dialek Yunani indentik dengan kata dan pengucapan Meroe,Ophir. Apakah benar sama
maksud kata tersebut dengan sebutan Sunda Land,Atlantis,Pulau Jawa
tempat pusat peradaban Saba berada ,ikuti terus pemaparan nya
Arysio Nunes dos Santos (1937 – 2005 M), adalah seorang insinyur
yang berkualifikasi dengan banyak paten terhadap kreditnya. Ia adalah
seorang Profesor Teknik Nuklir di Universitas Federal Minas Gerais di
Brasil, dan juga bekerja sebagai ahli geologi dan iklim. Ia juga seorang
ahli bahasa amatir yang antara lain telah menguasai bahasa Yunani dan
Sansekerta.
Kisah Atlantis ,Kisah Atlantis datang kepada kita dari Timaeus dan Critias, dialog Socrates, yang ditulis
pada sekitar 360 SM oleh Plato. Ada empat orang di suatu pertemuan yang telah bertemu hari
sebelumnya mendengarkan Socrates menggambarkan mengenai negara yang ideal. Socrates ingin
Timaeus dari Locri, Hermocrates, dan Critias untuk menceritakan kisah-kisah tentang interaksi Athena
dengan negara-negara lain.
Yang pertama adalah Critias, yang berbicara tentang pertemuan kakek moyangnya dengan Solon, salah
satu dari tujuh orang bijak, seorang penyair Athena dan penata hukum yang terkenal. Solon pernah ke
Mesir dimana pendeta disana membandingkan Mesir dengan Athena, dan bercerita tentang dewa-dewa
dan legenda masing-masing. Salah satu kisah pendeta Mesir tersebut
adalah tentang Atlantis.
Atlantis, yang kemungkinan adalah sebuah legenda mengenai bangsa
dan daratan dan disebutkan dalam dialog Plato Timaeus dan Critias,
telah menjadi obyek daya tarik di kalangan filsuf Barat dan sejarawan
selama hampir 2.400 tahun. Plato (ca 424 – ca 328 SM)
menggambarkannya sebagai kerajaan yang kuat dan maju yang
tenggelam, di malam hari, kedalam laut sekitar 9.600 SM.
Setelah Atlantis tumbuh kuat, etika mereka menurun. Tentara mereka
dapat menaklukkan Afrika sejauh Mesir dan Eropa sampai Tirenia
(Lebanon sekarang) sebelum dihalau kembali oleh aliansi yang
dipimpin oleh Athena. Kemudian, atas kutukan dewa, daratan itu
dilanda gempa bumi dan banjir, dan tenggelam ke dalam laut yang
berlumpur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar