Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 147

seperti Brahma, Wisnu, Siwa adalah aspek-aspek yang berbeda dari keberadaan Maha tinggi yang sama
tersebut.
Dewa Siwa juga dipuja dalam bentuk lain seperti halnya "Bhatara Guru" dan "Maharaja Dewa"
(Mahadewa) diidentifikasikan erat dengan Matahari dalam bentuk lokal Hindu atau Kebatinan.
Sebuah keyakinan tentang Trimurti, yang terdiri dari :
1. Brahma, sebagai sang pencipta
2. Vishnu atau Wisnu, sebagai sang pemelihara
3. Çiwa atau Siwa, sebagai sang pelebur (Hindu India sebagai Dewa perusak/penghancur)
Sebuah keyakinan tentang semua Dewa-Dewi Hindu lainnya (Hyang, Dewata dan Batara-Batari)
Pemerintah Indonesia telah mengakui Hindu sebagai salah satu dari enam agama monoteistik resmi,
bersama dengan Islam, Protestan, Katolik, Buddha, Hindu atau Konghucu).Namun pemerintah Indonesia
tidak mengakui sistem kepercayaan suku adat sebagai agama resmi. Akibatnya, pengikut berbagai agama
asli seperti Dayak Kaharingan telah mengidentifikasikan diri mereka sebagai Hindu untuk menghindari
tekanan untuk masuk Islam atau Kristen.
Beberapa keyakinan suku adat asli seperti Sunda Wiwitan dari suku Sunda, Aluk To Dolo suku Toraja,
dan Parmalim dari suku Batak - meskipun berbeda dari agama Hindu Bali yang mungkin mencari afiliasi
dengan agama Hindu untuk bertahan hidup, sementara di saat yang sama juga mencoba melestarikan
perbedaan mereka terhadap aliran utama Hindu Indonesia yan didominasi oleh suku Bali.
Ajaran Asli Nusantara, Agama di Bali adalah agama yang sangat terjalin dengan seni dan ritual, dan
lebih tidak ketat diatur oleh kitab suci, hukum, dan keyakinan seperti agama Islam. Agama di Bali
tidak memiliki penekanan tradisional pada siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi, melainkan
berkaitan dengan banyak sekali "hyang", sukma leluhur.
Seperti halnya kebatinan, dewa-dewi ini dianggap mampu melahirkan kebaikan atau merugikan.
Masyarakat di Bali sangat menekankan ritual-ritual perdamaian yang dramatis dan estetis terhadap para
"hyang". Ritual-ritual ini dilakukan di situs-situs candi dan pura yang tersebar di seluruh desa dan di
pedesaan.
Tempat bersembahyang atau kuil di Bali disebut Pura, dan tidak seperti mandir gaya Hindustan yang
menjulang tinggi dengan ruang interior, kuil Bali dirancang sebagai tempat bersembahyang di udara
terbuka dalam dinding tertutup, dihubungkan dengan serangkaian gerbang yang dihiasi secara rumit untuk
mencapai bagian ruang terbukanya. Masing-masing kuil ini memiliki keanggotaan yang kurang lebih
tetap; dimana setiap orang Bali adalah bagian dari sebuah kuil berdasarkan keturunan, tempat tinggal,
atau wahyu mistis. Beberapa kuil juga terdapat dalam rumah keluarga (juga disebut "banjar" di Bali),
yang lain terletak di sawah, dan yang lain terletak di lokasi geografis yang terkenal (tebing pantai,
gunung, dsb).
Agama Bali juga meliputi keyakinan agama Tabuh Rah, sabung ayam bersifat keagamaan di mana ayam
jago digunakan dalam adat keagamaan dengan memungkinkannya bertarung melawan ayam jago lain

Tidak ada komentar:

Posting Komentar