Berbagai ahli berpendapat bahwa sistem kasta dibangun oleh rezim kolonial Britania.Menurut guru
rohani Hindu Sri Ramakrishna (1836–1886):
Persembahyangan ,Wiracarita Mahabharata mengagungkan japa (lagu-lagu pujaan) sebagai kewajiban
terbesar pada masa Kaliyuga (zaman sekarang, 3102 SM–kini). Banyak aliran yang mengadopsi Japa
sebagai praktik spiritual yang utama.
Japa pada beberapa bahasa suku Nusantara adalah hal yang sering kita kenal,yaitu rapalan atau Mantera
yang di ucapkan sebagai seusuatu yang mempunyai makna Magis,hal ini jelas dalam ucapan asli
Nusantara ,Japa Mantra.
Praktik spiritual Hindu India yang cukup populer adalah Yoga. Yoga merupakan ajaran Hindu yang
gunanya melatih kesadaran demi kedamaian, kesehatan, dan pandangan spiritual. Hal ini dilakukan
melalui seperangkat latihan dan pembentukan posisi tubuh untuk mengendalikan raga dan pikiran.
Konsep ahimsa dalam Hinduisme tidak seketat agama Buddha dan Jainisme, karena jejak keberadaan
praktik-praktik pengorbanan dapat ditelusuri dalam kitab-kitab Weda, contohnya mantra-mantra untuk
kurban kambing (dalam Regweda), kurban kuda (Aswameda, dalam Yajurweda), dan kurban menurut
(Purusameda, dalam Yajurweda),sedangkan dalam ritus Jyotistoma ada tiga hewan yang dikurbankan
melalui upacara yang masing-masing disebut Agnisomiya, Sawaniya, dan Anubandya. Yajurweda
dianggap sebagai Weda pengorbanan dan ritual,serta menyebutkan beberapa ritus pengurbanan hewan,
contohnya mantra dan prosedur pengurbanan kambing putih kepada Bayu, seekor anak lembu kepada
Saraswati, seekor sapi bertutul kepada Sawitr, seekor banteng kepada Indra, seekor sapi yang dikebiri
kepada Baruna, dan lain-lain.
Dari sini, reaksi sosial berkenaan dengan kitab tata cara pengorbanan (Brahmana) dapat
ditelusuri.Menurut Panini, ada dua macam Brahmana, yaitu Brahmana Lama dan Brahmana Baru.Dalam
Brahmana Lama—seperti Aitareya Brahmana untuk Regweda—pengorbanan benar-benar dilakukan,
namun dalam Brahmana Baru seperti Shatapatha Brahmana, hewan kurban dilepaskan setelah terikat
pada tiang pengorbanan.Hal ini merupakan reaksi dari kebangkitan agama-agama Sramana—seperti
agama Buddha dan Jainisme—yang berakibat pada peletakan konsep ahimsa di kalangan praktisi kitab
Brahmana.
Ajaran Asli di Nusantara,Penduduk asli Kepulauan Nusantara mempraktikkan agama asli, keyakinan
yang juga menyebar kepada Ras Austronesia. Ajaran Asli Nusantara menghormati dan memuja Tuhan
dengan sebutan Hyang,Entitas tak terlihat yang memiliki kekuatan ini diidentifikasi oleh suku Jawa
tradisional dan suku Bali sebagai "hyang" serta oleh suku Dayak sebagai "sangiang" yang dapat berarti
"ilahi" atau "leluhur". Dalam bahasa Indonesia modern, "hyang" cenderung dikaitkan dengan Tuhan,
terlebih setelah era Orde Baru.
Kepercayaan dan praktik umum ,Acintya adalah Dewa Tertinggi dalam agama di Bali. Sebuah
keyakinan dalam satu keberadaan Maha tinggi yang disebut "Ida Sang Hyang Widhi Wasa", "Sang
Hyang Tunggal", atau "Sang Hyang Acintya". Tuhan Yang Maha Esa dalam budaya suku Toraja dari
Sulawesi Tengah dikenal sebagai "Puang Matua" di keyakinan Aluk To Dolo.
Sebuah keyakinan bahwa semua dewa adalah manifestasi dari keberadaan tertinggi tersebut. Kepercayaan
ini sama dengan keyakinan Smartha Sampradaya, yang juga menyatakan bahwa berbagai bentuk Dewa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar