Weda.sebagian besar gagasan dasar dan praktik Hinduisme Klasik berasal dari pustaka Smerti, yang
kemudian menjadi inspirasi dasar bagi kebanyakan umat Hindu.
Dua wiracarita India terkemuka—Ramayana dan Mahabharata—yang tergolong ke dalam Smerti,
disusun dalam periode panjang selama akhir zaman Sebelum Masehi dan awal zaman Masehi.Pustaka
tersebut mengandung cerita mitologis tentang para pemimpin dan peperangan pada zaman India Kuno,
dan diselingi dengan filsafat dan ajaran agama.
Sastra Purana yang disusun pada masa berikutnya mengandung cerita tentang para dewa-dewi, interaksi
mereka dengan manusia, dan pertempuran mereka melawan para rakshasa. Kitab Bhagawadgita
memperkuat keberhasilan konsolidasi agama Hindu,dengan memadupadan kan gagasan-gagasan
Brahmanis dan Sramana menjadi suatu kebaktian yang teistis.
Pada awal zaman Masehi, beberapa mazhab filsafat Hindu dikodifikasikan secara formal, meliputi
Samkhya, Yoga, Nyaya, Waisesika, Purwamimamsa, dan Wedanta.
Rama dan Kresna menjadi pujaan utama dalam tradisi bhakti, yang terutama diungkapkan dalam
Bhagawatapurana. Tradisi pemujaan Kresna melibatkan beberapa kultus berbasis Naga, yaksa, bukit,
dan pepohonan. Siwa menyerap kultus-kultus lokal dengan menambahkan kata Isa atau Iswara pada
nama dewa-dewa lokal, contohnya Buteswara, Hatakeswara, Candeswara.
Untuk mengingatkan tentang Simbolisasi Binatang pada ajaran Asli Nusantara yaitu ,Angsa,Kura Kura
dan Naga.Hal ini tampil dalam Kitab Bhagawatapurana yang menceritakan tentang Rama dan
Kresna,yang dalam Hal ini pun Penulis meyakini tentang Ramayana adalah yang terjadi di Nusantara,
Agama Hindu di India mengalami reformasi besar-besaran karena pengaruh Guru Ramanuja yang
terkemuka, serta Guru Madhwa, dan Sri Caitanya.Pengikut gerakan Bhakti beralih dari konsep Brahman
yang abstrak—yang dianjurkan oleh filsuf Adi Shankara berabad-abad sebelumnya—dengan tradisi
kebaktian yang lebih bersemangat terhadap pemujaan para awatara yang lebih mudah dibayangkan,
terutama Kresna dan Rama.
Kitab Bhagawadgita menghubungkan warna dengan kewajiban seseorang (swadharma), pembawaan
(swabhāwa), dan kecenderungan alamiah (guṇa).Berdasarkan pengertian warna menurut Bhagawadgita,
tokoh spiritual Hindu Sri Aurobindo membuat doktrin bahwa pekerjaan seseorang semestinya ditentukan
oleh bakat dan kapasitas alaminya.Dalam kitab Manusmerti terdapat pengelompokan kasta-kasta yang
berbeda.
Pada Ajaran Asli Nusantara baik Sunda Wiwitan ataupun Bali,Terdapat simbolisasi warna,hal ini bukan
berarti ajaran Asli Nusantara telah terpengaruh oleh ajaran Hindu India,Penulis Meyakini bahwa ajara
Hindu di India adalah berpangkal dari Ajaran Asli nenek moyang Nusantara.
Mobilitas dan fleksibitas dalam warna menampik dugaan diskriminasi sosial dalam sistem kasta,
sebagaimana yang dikemukakan oleh beberapa sosiolog,meskipun beberapa ahli tidak sependapat.Para
ahli memperdebatkan apakah sistem kasta merupakan bagian dari Hinduisme yang diatur oleh kitab suci,
ataukah sekadar adat masyaraka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar