Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 144

Dua tokoh terkemuka dari golongan Sramana, tradisi yang tidak mengakui kewenangan sastra Weda.
Di kemudian hari, Mahavira menjadi figur utama dalam Jainisme, sedangkan Siddhartha Gautama
dalam Buddhisme.
Sramana,Peningkatan urbanisasi di India pada abad ke-7 dan ke-6 SM telah mendukung terjadinya
gerakan asketis atau Sramana yang menentang fanatisme terhadap berbagai upacara.Mahavira (kr. 549–
477 SM, pemuka Jainisme) dan Buddha Gautama (kr. 563–483 SM, penggagas tradisi Buddhisme)
adalah tokoh-tokoh terkemuka dalam gerakan tersebut. Menurut Heinrich Zimmer, Jainisme dan
Buddhisme adalah bagian dari warisan kebudayaan pra-Weda, yang juga meliputi Samkhya dan
Yoga:
Jainisme tidak berasal dari sumber-sumber budaya Brahman-Arya, tetapi mencerminkan kosmologi dan
antropologi masyarakat kuno pra-Arya golongan atas yang tinggal di India bagian timur laut – dengan
berpangkal pada dasar-dasar yang sama tentang spekulasi metafisis kuno seperti Yoga, Sankhya, dan
Buddhisme, yaitu ajaran-ajaran India lainnya yang tidak berbasis Weda.
Dalam suatu bagian, tradisi Sramana mengajarkan konsep siklus kelahiran dan kematian (siklus
reinkarnasi), konsep samsara, dan konsep pencarian kebebasan (dari reinkarnasi tersebut), yang menjadi
karakteristik Hinduisme.
James B. Pratt dalam bukunya The Pilgrimage of Buddhism and a Buddhist Pilgrimage menulis bahwa
Oldenberg (1854–1920), Neumann (1865–1915), dan Radhakrishnan (1888–1975) percaya bahwa
Tripitaka Buddhis mendapat pengaruh dari kitab-kitab Upanishad, sedangkan la Vallee Poussin
menyatakan ketiadaan pengaruh apa pun, dan ahli lainnya menegaskan bahwa pada bagian-bagian
tertentu, Sang Buddha menyatakan antitesis secara langsung kepada Upanishad.
Hinduisme Praklasik,Pada periode dari 500 hingga 200 SM,dan kr. 300 M, terjadi "sintesis Hindu",
yang menyerap pengaruh-pengaruh Sramana dan Buddha, serta kemunculan tradisi bhakti dalam balutan
Brahmanisme melalui pustaka Smerti. Sintesis ini timbul di bawah tekanan perkembangan agama Buddha
dan Jainisme.
Menurut Embree, beberapa tradisi keagamaan lainnya hadir berdampingan dengan agama berbasis Weda.
Agama-agama pribumi tersebut akhirnya menemukan tempat di bawah naungan agama Weda. Ketika
Brahmanisme mulai kehilangan pamornya dan harus bersaing dengan Buddhisme dan Jainisme, agama￾agama yang populer mendapat kesempatan untuk menonjolkan ajarannya.
Menurut Embree:Para Brahmanis tampaknya bergiat untuk memperluas perkembangan agamanya
sebagai maksud untuk menghadapi gempuran aliran-aliran yang lebih heterodoks. Pada saat yang sama,
di kalangan agama-agama pribumi yang ada, kesetiaan terhadap kewenangan sastra Weda telah
memberikan suatu tali persatuan yang tipis—namun begitu signifikan—di antara kemajemukan dewa￾dewi dan praktik keagamaan yang ada.
Menurut Larson, para brahmana menanggapinya dengan asimilasi dan konsolidasi. Hal tersebut
tercerminkan dalam pustaka Smerti yang mulai disusun pada periode itu.Kitab-kitab Smerti dari periode
200 SM–100 M mempermaklumkan kewenangan Weda, sehingga pengakuan terhadap kewenangan
Weda menjadi kriteria utama untuk membedakan Hinduisme dengan aliran heterodoks yang menolak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar