masyarakat agraris, sehingga kebutuhan akan organisasi yang lebih terstruktur mulai timbul. Masyarakat
baru tersebut melibatkan penduduk yang lebih dahulu bermukim di dataran subur tersebut. Mereka
dimasukkan ke dalam sistem warna menurut bangsa Arya, dengan otoritas politik dan keagamaan berada
di tangan kaum brahmana dan kesatria.
Bentuk-bentuk wilayah berdaulat yang belum sempurna mulai muncul, dan yang paling menonjol atau
berpengaruh adalah kerajaan suku Kuru. Kerajaan tersebut merupakan ikatan kesukuan, yang kemudian
berkembang menjadi masyarakat setingkat negara—yang pertama kali tercatat dalam sejarah Asia
Selatan—sekitar 1000 M.
Secara terang-terangan, mereka mengubah warisan budaya dari Periode Weda sebelumnya,
mengumpulkan himne-himne Weda menjadi suatu himpunan, dan mengembangkan upacara-upacara baru
yang menonjol dalam peradaban India sebagai upacara-upacara srauta,yang berkontribusi bagi "sintesis
klasik" atau "sintesis Hindu".
Pada abad ke-9 dan ke-8 SM terjadi penyusunan kitab-kitab Upanishad tertua.Upanishad
membentuk suatu dasar teoritis bagi Hinduisme Klasik dan dikenal sebagai Wedanta (kesimpulan
dari Weda). Kitab-kitab Upanishad kuno menangkal intensitas upacara-upacara yang kian
bertambah.Spekulasi monistis yang beragam dari ajaran Upanishad disintesiskan menjadi suatu
kerangka teistis dalam kitab suci Hindu Bhagawadgita.
Istilah dharma sudah digunakan dalam filsafat-filsafat Brahmanis,
yang dipandang sebagai aspek dari reta. Istilah reta juga dikenal dalam
agama Proto-Indo-Iran, yaitu agama orang-orang Indo-Iran sebelum
kehadiran kitab-kitab Weda (Indo-Aryan) dan Zoroastrianisme
(Iran). Asha (aša) adalah istilah dalam bahasa Avesta yang mirip
dengan ṛta dalam Weda.
Kitab-kitab Weda merupakan pustaka bagi golongan atas, dan tidak
semata-mata mengungkapkan gagasan atau praktik yang
populer.Agama berbasis Weda pada periode selanjutnya hadir
berdampingan dengan agama-agama lokal—seperti pemujaan Yaksa
dan ia sendiri merupakan hasil dari campuran antara kebudayaan
Indo-Arya dengan Harrapa.
Reformisme Asketis Mahavira dan Siddhartha
Gautama,Mahavira (artinya pahlawan besar) (599 – 527 SM) atau
Vardhamana (Sanskerta:). Vardhamana dilahirkan sekitar tahun 599
SM di India sebelah timur laut, di daerah yang sama dengan Buddha
Gautama di lahirkan walaupun satu generasi lebih awal. Anehnya, kehidupan kedua orang itu banyak
persamaanya yang menarik. Vardhamana anak bungsu dari seorang pemimpin, dan seperti juga gautama
dibesarkan dalam kemewahan. Pada umur tiga puluh tahun, dia menjauhkan lingkungannya, keluarga (dia
mempunyai seorang istri dan seorang anak perempuan), meninggalkan lingkungannya yang nyaman, dan
memutuskan mencari kebenaran dan kepuasan spiritual.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar