Aliran inilah yang penulis meyakini ajaran yang di bawa dari Tanah Nusantara,dan masih bertahan
sedikit mengalami penyesuaian dengan terdapat perubahan karena pengembnangan nya di Tanah India,
Tercermin dari Umat Saiwa lebih menekan kan pada prosesi kontemplasi tapa brata,hal ini tampil pada
bentuk arca orang bertapa atau samadi di Candi Borobudur.Bhairawa ( Bentuk pengucapan oleh
orang Jawa indentik dengan Bhorusrowo,Mahluk seram ).
Pertapaan ,Sejumlah umat Hindu memilih untuk hidup sebagai petapa (Sanyāsa) dalam upaya
mencapai "moksa" atau pun bentuk kesempurnaan spiritual lainnya. Para petapa berkomitmen untuk
hidup sederhana, tidak berhubungan seksual, tidak mencari harta duniawi, serta berkontemplasi tentang
Tuhan.Petapa Hindu disebut sanyasin, sadu, atau swāmi, sedangkan yang wanita disebut sanyāsini.
Beberapa petapa tinggal di tempat suci atau asrama, sedangkan yang lainnya berkelana dari satu tempat
ke tempat lain dengan keyakinan bahwa hanya Tuhan yang dapat memenuhi keinginan mereka.
Aliran ini terbagi dalam beberapa golongan, yaitu: Pasupata (Saiwa yang menekankan tapa brata,
terutama tersebar di Gujarat, Kashmir, dan Nepal), Saiwa Siddhanta (Saiwa yang mendapat pengaruh
Tantra), Kashmira Saiwadarshana (Saiwa yang monistis dan idealistis), Natha Siddha Siddhanta
(Saiwa yang monistis), Linggayata (Saiwa yang monoteistis), Saiwa Adwaita (Saiwa yang monistis dan
teistis).
3.Sakta: aliran Hinduisme yang memuja Sakti atau Dewi. Pengikut Saktisme meyakini Sakti sebagai
kekuatan yang mendasari prinsip-prinsip maskulinitas, yang dipersonifikasikan sebagai pasangan dewa.
Sakti diyakini memiliki berbagai wujud. Beberapa di antaranya tampak ramah, seperti Parwati (pasangan
Siwa) atau Laksmi (pasangan Wisnu). Yang lainnya tampak menakutkan, seperti Kali atau Durga. Sakta
memiliki kaitan dekat dengan Hinduisme Tantra, yang mengajarkan ritual dan praktik untuk penyucian
pikiran dan tubuh
Umat Sakta menggunakan mantra-mantra, sihir, gambar sakral, yoga, dan upacara untuk memanggil
kekuatan kosmis.Aliran ini mengandung dua golongan utama, yaitu: Srikula (pemujaan kepada dewi-dewi
yang bergelar Sri) dan Kalikula (pemujaan kepada dewi-dewi perwujudan Kali).
4.Smarta: aliran Hindu-monistis yang memuja lebih dari satu dewa—meliputi Siwa, Wisnu, Sakti,
Ganesa, dan Surya di antara dewa dan dewi lainnya—tetapi menganggap bahwa dewa-dewi tersebut
merupakan manifestasi dari zat yang Maha Esa. Dibandingkan tiga aliran Hinduisme yang disebutkan di
atas, Smarta berusia relatif muda. Berbeda dengan Waisnawa atau Saiwa, aliran ini tidak bersifat
sektarian secara gamblang, dan berdasarkan pada iman bahwa Brahman adalah asas tertinggi di alam
semesta dan meresap ke dalam segala sesuatu yang ada.
Pada umumnya, umat Smarta memuja Yang Mahakuasa dalam enam personifikasi: Ganesa, Siwa, Sakti,
Wisnu, Surya, dan Skanda. Karena umat Smarta menerima keberadaan dewa-dewi Hindu yang utama,
mereka dikenal sebagai umat liberal atau non-sektarian. Mereka mengikuti praktik-praktik filosofis dan
meditasi, serta menekankan persatuan antara individu dengan Tuhan melalui kesadaran.
Sastra Weda memusatkan pemujaan kepada para dewa seperti Indra, Baruna, dan Agni, serta
melangsungkan upacara Soma. Kurban dengan api, yang disebut yadnya (yajña) dilaksanakan dengan
merapalkan mantra-mantra Weda.Sastra Weda dikodifikasi ketika bangsa Indo-Arya mulai menduduki
dataran India Utara yang subur, kemudian melakukan transisi dari masyarakat penggembala menuju
Tidak ada komentar:
Posting Komentar