patung-patung itu masih tampak samar-samar. Rancang bangun ini dengan cerdas menjelaskan konsep
peralihan menuju keadaan tanpa wujud, yakni arca itu ada tetapi tak terlihat.
Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung yang tidak sempurna.
Struktur bangunan
Penampang candi Borobudur terdapat rasio perbandingan 4:6:9 antara bagian kaki, tubuh, dan
kepala,Tangga Borobudur mendaki melalui serangkaian gapura berukir Kala-Makara
Sekitar 55.000 meter kubik batu andesit diangkut dari tambang batu dan tempat penatahan untuk
membangun monumen ini. Batu ini dipotong dalam ukuran tertentu, diangkut menuju situs dan disatukan
tanpa menggunakan semen. Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem
interlock (saling kunci) yaitu seperti balok-balok lego yang bisa menempel tanpa perekat. Batu-batu ini
disatukan dengan tonjolan dan lubang yang tepat dan muat satu sama lain, serta bentuk "ekor merpati"
yang mengunci dua blok batu. Relief dibuat di lokasi setelah struktur bangunan dan dinding rampung.
Monumen ini dilengkapi dengan sistem drainase yang cukup baik untuk wilayah dengan curah hujan yang
tinggi. Untuk mencegah genangan dan kebanjiran, 100 pancuran dipasang disetiap sudut, masing-masing
dengan rancangan yang unik berbentuk kepala raksasa kala atau makara.
Borobudur amat berbeda dengan rancangan candi lainnya, candi ini tidak dibangun di atas permukaan
datar, tetapi di atas bukit alami. Akan tetapi teknik pembangunannya serupa dengan candi-candi lain di
Jawa. Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan
seperti candi-candi lain.
Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan
jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi
candi tingkat demi tingkat. Secara umum rancang bangun
Borobudur mirip dengan piramida berundak. Di loronglorong inilah. Borobudur mungkin pada awalnya berfungsi
lebih sebagai sebuah stupa, daripada kuil atau candi.Stupa
memang dimaksudkan sebagai bangunan suci.
Terkadang stupa dibangun sebagai lambang penghormatan dan pemuliaan. Sementara kuil atau candi
lebih berfungsi sebagai rumah ibadah. Rancangannya yang rumit dari monumen ini menunjukkan bahwa
bangunan ini memang sebuah bangunan tempat peribadatan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur
teras bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak, yang
merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.
Struktur bangunan dapat dibagi atas tiga bagian: dasar (kaki), tubuh, dan puncak.Dasar berukuran
123×123 m (403.5 × 403.5 ft) dengan tinggi 4 metres (13 ft).Tubuh candi terdiri atas lima batur teras
bujur sangkar yang makin mengecil di atasnya. Teras pertama mundur 7 metres (23 ft) dari ujung dasar
teras.
Tiap teras berikutnya mundur 2 metres (6.6 ft), menyisakan lorong sempit pada tiap tingkatan. Bagian
atas terdiri atas tiga teras melingkar, tiap tingkatan menopang barisan stupa berterawang yang disusun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar