Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 110

Ajaran ini kelak dilanjutkan dan dikembangkan oleh salah seorang tokoh Mahaguru Rasi Shakyamuni –
Sidharta Gautama (‗Sang Budha‘), seorang putra mahkota kerajaan Kapilawastu di Nepal – India.
Pembentukan Tri-Dharma Ajaran asli Nusantara dilakukan melalui tahapan yang berbeda sesuai dengan
tingkatan umurnya yaitu :
4. Dharma Rasa, ialah mendidik diri untuk dapat memahami ―rasa‖ (kelembutan) di dalam
segala hal, sehingga mampu menghadirkan keadaan ―ngarasa jeung rumasa‖ (menyadari rasa
dan memahami perasaan). Dengan demikian dalam diri seseorang kelak muncul sifat
menghormati, menghargai, dan kepedulian terhadap sesama serta kemampuan merasakan
yang dirasakan oleh orang lain (pihak lain), hal ini merupakan pola dasar pembentukan sifat
―welas-asih‖ dan manusianya kelak disebut ―Dewa-Sa‖.
5. Dharma Raga, adalah mendidik diri dalam bakti nyata (bukti) atau mempraktekan sifat rasa
di dalam hidup sehari-hari (bukan teori) sehingga kelak keberadaan/ kehadiran diri dapat
diterima dengan senang hati (bahagia) oleh semua pihak dalam keadaan ―ngaraga jeung
ngawaruga‖(menjelma dan menghadirkan). Hal ini merupakan pola dasar pembentukan
perilaku manusia yang dilandasi oleh kesadaran rasa dan pikiran.
Seseorang yang telah mencapai tingkatan ini disebut ―Dewa-Ta‖.
6. Dharma Raja, adalah mendidik diri untuk menghadirkan ―Jati Diri‖
sebagai manusia ―welas-asih‖ yang seutuhnya dalam segala perilaku
kehidupan ―memberi tanpa diberi‖ atau memberi tanpa menerima
(tidak ada pamrih). Tingkatan ini merupakan pencapaian derajat
manusia paling terhormat yang patut dijadikan suri-teladan bagi semua
pihak serta layak disebut (dijadikan) pemimpin.
Semua Laku atau tata cara untuk mencapai seperti yang di sebut kan di atas adalah dengan laku TAPA
yaitu prosesi ritual kontemplasi ,berdiam diri dengan duduk bersila pada posisi sempurna.
Kesimpulan bahwa Candi yang saat ini bernama Borobudur sekali lagi adalah ajaran asli
Nusantara,hal tersebut bisa kita lihat jelas dari arca sosok yang tengah melakukan tapa
semadi,perhatikan di setiap bagian belakang dari kepala selalu tergambar Matahari,posisi arca tersebut
adalah posisi ritual untuk mencapai tingkatan yang tersebut di atas.
Juga perhatikan dua sosok orang tua yang melayang di atas pertapa tersebut,mengapa sosok tersebut bisa
melayang,dalam bahasan di bawah tentang Borobudur kita akan temukan nanti ,siapa sosok tersebut yang
bisa melayang kaitan apa dengan Saba yang bisa memendekan jarak dengan terbang melayang,juga
tentang Mukjizat yang di berikan kepada Sulaiman bisa menguasai Angin.
Ajaran asli Nusantara berlandaskan kepada sifat bijak-bajik Matahari yang menerangi dan
membagikan cahaya terhadap segala mahluk di penjuru Bumi tanpa pilih kasih dan tanpa membeda￾bedakan. Matahari telah menjadi sumber utama yang mengawali kehidupan penuh suka cita, dan tanpa
Matahari segalanya hanyalah kegelapan.
Oleh sebab itulah nenek moyang bangsa Nusantara asli adalah para penganut ajaran berkiblat kepada
Matahari (Sang Hyang Tunggal) sebagai simbol ketunggalan dan kemanunggalan yang ada di langit, dan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar