Janganlah menjalankan Tapa yang salah! Yaitu tapa nya orang yang suka menyiksa badan, berlebihan
dalam hal kekuasaan, terperdaya oleh isi hati, dan tersesat karena berahi. Itulah perilaku yang tak
bermanfaat. Menjadi pendeta, janganlah hanya mengaku-aku, melainkan hendaknya disertai kekuasaan
sejati.
(1) kembali ke alam dunia dalam wujud yang derajatnya lebih rendah (menjadi hewan, tumbuhan atau
benda lainnya sesuai dengan kepercayaan reinkarnasi) dan
(2) menuju alam niskala, bahkan terus ke alam jatiniskala (menyatu dengan kehidupan Dewa dan
kemudian Mahadewa).
Itulah beberapa makna yang bisa penulis tampilkan dalam membaca bentuk patung arca yang ada di
Borobudur.yang sesuai dengan gamaran yang ada pada relief Borobudur dan untuk lebih jelas lagi penulis
akan paparkan pada bahasan detail relief Borobudur.
Di Bawah ini adalah palsafah yang tersisa pada masarakat Jawa Barat atau Sunda,lihat apakah ada
kesamaan antara kepercayaan asli suku Jawa dan Sunda.Palsafah ini juga tampil dalam relief Borobudur
dalam beberapa adegan dan perlambang.
Buana jatiniskala adalah alam kemahagaiban sejati sebagai tempat tertinggi di jagat raya. Penghuninya
adalah zat Maha Tunggal yang disebut Sang Hyang Manon, ( Manon dalam bahasa Sunda adalah Mata )
zat Maha Pencipta yang disebut Si Ijunajati Nistemen. Zat inilah yang berada di tingkat kegaiban dan
kekuasaannya paling tinggi. Dialah pencipta batas, tetapi tak terkena batas. Dengan demikian, tiap-tiap
alam mempunyai penghuninya masing-masing yang wujud, sifat, tingkat, dan tugas/kewenangannya
berbeda.
Inti pola dasar ajaran asli Nusantara adalah ―berbuat baik dan benar yang dilandasi oleh kelembutan rasa
welas-asih‖. Pola dasar tersebut diterapkan melalui Tri-Dharma (Tiga Kebaikan) yaitu sebagai pemandu
‗ukuran‘ nilai atas keagungan diri seseorang/ derajat manusia diukur berdasarkan dharma (kebaikan) :
1. Dharma Bakti, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap diri, keluarga
serta di lingkungan kecil tempat ia hidup, manusianya bergelar ―Manusia Utama‖.
2. Dharma Suci, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap bangsa dan
negara, manusianya bergelar ―Manusia Unggul Paripurna‖ (menjadi idola).
3. Dharma Agung, ialah seseorang yang telah menjalankan budhi kebaikan terhadap segala peri
kehidupan baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, yang tercium, yang tersentuh dan tidak
tersentuh, segala kebaikan yang tidak terbatasi oleh ruang dan waktu, manusianya bergelar
―Manusia Adi Luhung‖ (Batara Guru)
Nilai-nilai yang terkandung di dalam Tri-Dharma ini kelak menjadi pokok ajaran ―Budhi-Dharma‖
(Buddha) yang mengutamakan budhi kebaikan sebagai bukti dan bakti rasawelas-asih terhadap segala
kehidupan untuk mencapai kebahagiaan, atau pembebasan diri dari kesengsaraan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar