Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 108

Dewa Siwa adalah penamaan kepada "Bhatara Guru" dan "Maharaja Dewa" (Mahadewa)
diidentifikasikan erat dengan Matahari dalam bentuk lokal asli agama kepercayaan luhur nenek moyang
Nusantara atau pada masa Orede Baru agama asli ini di sebut Aliran Kebatinan atau aliran Kepercayaan,
Kemudia agama ini berkembang di India menjadi Hndu yang dalam periode ajaran Pra Weda.
Kepercayaan yang masih terasa adanya di saat masa sebelum Orde Baru di mana kepercayaan asli
tradisional Nusantara masih boleh ada dan di masa Orde Baru kepercayaan tersebut terpaksa harus
bernama Hindu,padahal ajaran Hindu sendiri berbeda dengan ajaran asli masyarakat Nusantara.
Sebuah keyakinan tentang Trimurti adalah ajaran asli Nusantara yang mendasari ajaran Hindu
keberadaan nya dapat di ketahui pada masa yang di sebut Pra Weda di India dan penamaan nya pun
mengikuti nama ajaran asli nya, yang terdiri dari :
1. Brahma, sebagai sang pencipta
2. Vishnu atau Wisnu, sebagai sang pemelihara
3. Çiwa atau Siwa, sebagai sang pelebur / Pelebur menyatukan ( Hindu India,Siwa:Perusak )
Penulis beri cuplikan sedikit tentang Ajaran asli Nusantara yang terlihat dalam ajaran nenek
moyang pada suku Jawa.
Tata Budidaya Suci Jawa Hwuning.
Nama Ajaran atau palsafah asli yang masih tersisa di tanah jawa di sebut dengan Agama Suci Hwuning,di
sini penulis kutipkan sedikit dari tulisan yang masih berbahasa jawa ,‖Kanggo njembarake papan
panggonane, wong-wong mau padha nekad ngrambah alas nglanjak bumi Teluk Lodhan. Wong saka
Nusa Tempabesi kuwi Kapercayan/Agamane ngadhep-manembah ning Dewa Srengenge/, dewa Geni.
Kata Dewa Srengenge atau Dewa Agni .Sang Matahari adalah Bukti bahwa mereka bukan penganut
animis me atau Dinamisme .
Juga Mari kita lihat pada ajaran Luhur Suku Sunda .
Ajaran atau Palsafah yang tampil pada bentuk patung dan stupa pada Borobudur adalah penggambaran
ajaran Moral agama asli Nusantara ,hal itu dapat kita artikan secara garis besar melalui palsafah Sunda
Wiwitan adalah :
Ajaran moral keagamaan dalam bentuk dialog antara pendeta utama dengan Pwah Batara Sri (penguasa
alam Kahyangan) dan Pwah Sanghyang Sri (penjaga alam kasurgaan).Tampil pada relief Borobudur.
Ditekankan bahwa setiap makhluk yang ada di jagat raya, baik di bumi sakala maupun di buana niskala,
hendaknya mampu menjalankan tugasnya masing-masing
Yaitu sesuai dengan kadar bayu (kekuatan), sabda (suara), dan hedap (iktikad) yang diterima dari Sang
Pencipta. Manusia pun hendaknya mampu menyeimbangkan bayu, sabda, dan hedapnya masing-masing
melalui berbagai kegiatan Tapa (pengabdian) lahir dan batin agar kelak bisa kembali ke kodratnya
bagaikan Dewa.
Selain itu, dalam melaksanakan Tapa manusia hendaknya diiringi oleh penuh rasa keikhlasan, jangan
rakus, jangan mengambil hak yang lain supaya tidak tersesat kembali ke bumi sakala dan mengalami
sengsara. Apabila hendak berbuat kebajikan, janganlah setengah hati! Itulah kodrat pendeta dan hakikat
pertapaannya yang dilakukan tak kenal siang dan malam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar