Borobudur adalah sebuah candi yang terletak di,
Magelang,
Jawa Tengah, Indonesia. Lokasi candi adalah
kurang lebih 100 km di sebelah barat daya
Semarang, 86 km di sebelah barat Surakarta, dan
40 km di sebelah barat laut Yogyakarta.
Nama Borobudur ,Banyak teori yang berusaha
menjelaskan nama candi ini. Salah satunya
menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal
dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak
teras-teras.
Pada Prasasti Prasasti Kayumwungan atau Prasasti Karang Tengah dan Prasasti Tri Tepusan
menyebutkan nama yang sama dengan maksud Candi Borobudur dengan sebutan Kamulan I
Bumishambara .
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa
Inggris untuk menyebut desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi
memang seringkali dinamai berdasarkan desa tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa
istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa yang berarti "purba"– maka
bermakna, "Boro purba".
Lingkungan sekitar ,Borobudur, Pawon, dan Mendut terbujur dalam satu garis lurus yang menunjukan
kesatuan perlambang yang Nanti Penulis akan jelaskan apa maksud nya.
Terletak sekitar 40 kilometres (25 mil) barat laut dari Kota Yogyakarta, Borobudur terletak di atas bukit
pada dataran yang dikeliling dua pasang gunung kembar; Gunung Sundoro-Sumbing di sebelah barat laut
dan Merbabu-Merapi di sebelah timur laut, di sebelah utaranya terdapat bukit Tidar, lebih dekat di
sebelah selatan terdapat jajaran perbukitan Menoreh, serta candi ini terletak dekat pertemuan dua sungai
yaitu Sungai Progo dan Sungai Elo di sebelah timur.
Menurut legenda Jawa, daerah ini dikenal sebagai dataran Kedu adalah tempat yang dianggap suci dalam
kepercayaan Jawa dan disanjung sebagai 'Taman pulau Jawa' karena keindahan alam dan kesuburan
tanahnya.
Tidak ditemukan bukti tertulis yang menjelaskan siapakah yang membangun Borobudur dan kapan
waktu di bangun nya. Untuk inilah Penulis mencoba menggali kemudian memaparkan nya dalam bentuk
buku yang bersifat telaah Subjektif,dengan harapan di kemudian hari akan di dapat kan keterangan yang
lebih mendekati kebenaran dari sebuah Fakta Sejarah.
Terdapat kesimpangsiuran fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu beragama Hindu
atau Buddha. Jika pandangan umum yang terbentuk saat ini tentang masa pembangunan candi ini,Wangsa
Sailendra diketahui sebagai penganut agama Buddha aliran Mahayana yang taat, akan tetapi melalui
temuan prasasti Sojomerto menunjukkan bahwa mereka mungkin awalnya beragama Hindu Siwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar