Dalam kitabnya, Walmiki mengungkapkan Sri Rama membutuhkan bantuan jutaan ekor kera untuk
mengangkut batu dan mengurug lautan. Bila melihat postur kera seperti sekarang, agak sulit diterima akal
bila mahluk itu mampu berkolaborasi dengan manusia yang notabene jumlahnya saat itu masih terbatas.
Bantuan pasukan kera itu datang dari Sugriwa, raja kera yang tengah berseteru dengan saudaranya Subali.
Setelah ada kesepakatan, Sri Rama membantu merebut tahta Sugriwa dari Subali. Setelah berhasil, bangsa
kera membantu Rama membangun jembatan penyebrangan dari Rameswaram (India) ke Sri langka.
Kemudian dari kisah tersebut maka yang menjadi bahan pertanyaan para ahli antropologi Srilangka dan
Unicef adalah, benarkah sosok raja Sri Rama yang brilian itu
pernah lahir di muka bumi dan membuat sebuah karya yang
spektakuler? Kalau pernah ada, dari bangsa mana dan pada
masa apa kehadirannya. Karena dalam kitab suci itu
diungkapkan, bahwa Rama dibantu jutaan kera membangun
jembatan penyebrangan ke Alengka.
Dari hasil penelitian lanjutan terungkap, yang pasti Sri Rama
bukan dari ras Homo Sapiens (bangsa kera), tapi diduga kuat
dari peralihan homo Sapeinsis ke Australiensis. Ras ini
memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi, yang mampu
membuat sebuah mahakarya dunia yang tahan oleh hempasan
waktu, dan gelombang laut yang cukup ganas selama beriburibu tahun.
Menurut S.U.Deraniyagala, Direktur Jenderal Arkeologi Srilanka yang juga pengarang buku ―The Early
Man and The Rise of Civilization in Srilangka‖, dari sejumlah bukti yang ada, baik berupa artefak dan
peralatan hidup lainnya, sejak dua juta tahun yang lalu di Srilangka memang telah ada komunitas
kehidupan yang aktif. Salah satu buktinya adalah, penemuan kerangka manusia raksasa yang diperkirakan
hidup di periode zaman Satya (Satya Yuga). Memiliki postur tubuh jangkung dengan ketinggian sekitar
60 hasta atau setinggi pohon kelapa.
Data terakhir hasil penelitian para ahli badan dunia juga mengungkap soal umur dan penggunaan
jembatan yang kini berada di bawah laut tersebut. Penggunaan ―uji carbon‖ dalam penelitian tersebut
hanya mampu mengungkap usia hingga 5.000 tahun. Namun untuk mengungkap lebih jauh lagi tentang
usia dari karya dunia ini, maka para ahli Badan PBB ini menggunakan ―Uranium Radio Isotop‖. Dan
ternyata dari hasil uji radio isotop itu cukup mengagumkan. Para ahli berhasil mengungkap bahwa usia
jembatan ―Sri Rama Bridge‖ mendekati usia hingga jutaan tahun.
Menurut DR. Vijaya Laksmi, profesor arkeologi dari Bharataduth University Colombo, bahwa dari hasil
uji karbon sebelumnya terungkap usia Sri Rama Bridge ini sekitar 3.500-4.000 tahun. Namun dengan
metodologi yang baru, terungkap bahwa usia obyek penelitian ini berkisar antara 1.750.000 – 2.000.000
tahun. Diungkapkan lebih jauh, bahwa berdasarkan cakram waktu Hindu, pembangunan jembatan Sri
Rama ini berada pada kisaran waktu masa Sathya yaitu sekitar 1.728.000 tahun. Sementara masa waktu
lainnya yaitu masa Tredha 1.296.000 tahun, masa Kali 4.320.000 tahun dan masa Dwapara 8.640.000
tahun yang lalu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar