Dalam sebuah seloka mengenai Mahabharata, diceritakan dengan kiasan
sebuah senjata penghancur massal yang akibatnya mirip sekali dengan
senjata nuklir masa kini.
Beberapa Seloka dalam kitab Wedha dan Jain secara eksplisit dan lengkap
menggambarkan bentuk dari ―wahana terbang‖ yang disebut ‗‖Vimana‖
yang ciri-cirinya mirip piring terbang masa kini.
Sebagian besar bukti tertulis justru berada di India dalam bentuk naskah
sastra, sedangkan bukti fisik justru berada di belahan dunia barat yaitu
Piramid di Mesir dan Amerika Selatan.dan yang lebih lengkap terdapat pada relief Borobudur.
Singkatnya segala penyelidikan diatas berusaha menyatakan bahwa umat manusia pernah maju dalam
peradaban Atlantis dan Rama. Bahkan jauh sebelum 4000 SM manusia pernah memasuki abad antariksa
dan teknologi nuklir. Akan tetapi zaman keemasan tersebut berakhir akibat perang nuklir yang dahsyat
pula. Hingga pada masa sesudahnya, manusia sempat kembali ke zaman primitif yang kemudian berakhir
dengan munculnya peradaban Sumeria sekitar 4000 SM atau 6000 tahun yang lalu.
Penemuan jembatan Ramayana (Sri Rama Bridge) ,Semua kisah tentang perjalanan hidup manusia
kera dan Rama, terangkum dalam kitab suci Ramayana yang ditulis oleh pendeta Walmiki untuk
mengenang kisah kepahlawanan Hanuman dan perjuangan cinta Sri Rama terhadap istrinya Dewi Sinta.
Di dalam cerita Ramayana tersebutlah kisah bahwa ia hendak
menyelamatkan istrinya ―Dewi Sinta‖ yang diculik oleh Rahwana dan
dibawa ke negeri Alengka. Saat Rama dan adiknya Lasmana beserta para
tentaranya bersiap-siap menuju Alengka, mereka harus berhenti karena
terhalang oleh luasnya laut yang membentang didepan.
Sri Rama dan pemimpin wanara lainnya akhirnya harus berunding untuk
memikirkan cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak semua
prajuritnya bisa terbang. Keputusannya Rama menggelar suatu upacara di
tepi laut untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna. Selama tiga hari Rama berdo‘a namun tidak
mendapat jawaban, akhirnya kesabarannya habis, kemudian ia mengambil busur dan panahnya untuk
mengeringkan lautan.
Melihat laut akan binasa, Dewa Baruna datang menemui Rama dan meminta maaf atas kesalahannya.
Dewa Baruna menyarankan agar para wanara membuat jembatan besar tanpa perlu mengeringkan atau
mengurangi kedalaman lautan. Nila pun ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut.
Dibantu panglima kera Hanuman dan jutaan pasukan kera dari Raja Sugriwa, Sri Rama mengurug
(menimbun) lautan dengan batu karang dan membangun jembatan selama bertahun tahun. Jembatan ini
dibangun dengan menggunakan batu dan pasir apung, namun para Dewa mengatakan dikemudian hari
batuan tersebut akan menancap ke dasar laut, yang akhirnya menciptakan rangkaian batu karang.
Setelah bekerja dengan giat, jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu yang relatif singkat dan diberi
nama ―Situbanda‖. (Apa hubungan dengan wilayah di Jawa Timur yang bernama Situbondo). Kemudian
berkat jembatan inilah pasukan Rama akhirnya berhasil menyeberang dan menaklukan kerajaan Alengka
serta merebut Dewi Sinta dari Rahwana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar