Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 69

Golongan pertama menghapus tokoh Bagong karena tidak disukai Belanda, sedangkan golongan kedua
mempertahankannya.
Dalam pementasan wayang golek gaya Sunda, ketiga anak Semar memiliki urutan yang lain dengan di
Jawa Tengah. Para panakawan versi Sunda bernama Semar, Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara
itu pewayangan gaya Jawa Timuran menyebut pasangan Semar hanya Bagong saja, serta anak Bagong
yang bernama Besut.
Dalam pewayangan Bali, tokoh panakawan untuk golongan kesatria bernama Tualen dan Merdah,
sedangkan pengikut golongan jahat bernama Delem dan Sangut.
Dalam pementasan ketoprak juga dikenal adanya panakawan, namun nama-nama mereka tidak pasti,
tergantung penulis naskah masing-masing. Meskipun demikian terdapat dua pasang panakawan yang
namanya sudah ditentukan untuk dua golongan tertentu pula.
Raja Dewa Lain ;Setelah para dewa bisa tenang tinggal dibumi Jawa dan menikah dengan putri pribumi
dan punya anak keturunan, Betara Guru kembali ke Kahyangan. Beberapa putranya ditunjuk untuk
meneruskan memimpin kerajaan-kerajaan selain di Jawa juga di Sumatra dan Bali.
Di Sumatra :Sang Hyang Sambo bergelar Sri Maharaja Maldewa, di kerajaan Medang Prawa, di
gunung Rajabasa .( Didekat Ceylon sekarang ada negeri Maldives).
Di Bali :Sang Hyang Bayu , bergelar Sri Maharaja Bimo, di Gunung Karang , kerajaannya Medang
Gora. ( Pulau Bali juga terkenal sebagai Pulau Dewata).
Di Jawa ,Sang Hyang Brahma bergelar Sri Maharaja Sunda, di gunung Mahera , Anyer, Jawa Barat.
Kerajaannya Medang Gili.( Asal mulanya penduduk yang tinggal di Jawa bagian barat disebut orang
Sunda).
Sang Hyang Wisnu bergelar Sri Maharaja Suman , di gunung Gora , Gunung Slamet , Jawa Tengah.
Kerajaannya Medang Puro.
Sang Hyang Indra, bergelar Sri Maharaja Sakra, di gunung Mahameru, Semeru , Jawa Timur.
Kerajaannya Medang Gana.
Karaton dipuncak gunung ,Menarik untuk diperhatikan bahwa para dewa selalu membangun karaton
dipuncak-puncak gunung. Ini menggambarkan dewa itu berasal dari langit, dari tempat yang tinggi.
Tempat tinggi, diatas itu artinya bersih, jauh dari hal-hal kotor, sikap harus dijaga tetap suci, baik, benar,
sopan, bagi dewa yang telah menjadi manusia dan tinggal dibumi.
Bumi Samboro ,Ini artinya tanah yang menjulang kelangit. Dalam kebatinan Kejawen, contohnya adalah
Gunung Dieng, Adhi Hyang, maksudnya supaya orang selama masih hidup didunia mencapai puncak
pengetahuan spiritual, mendapatkan pencerahan jiwani, tinggi elmunya, suci lahir batin. Puncak itu adalah
Adhi Hyang atau Bumi Samboro.
Dewo ngejowantah ,Dewa yang menampakkan diri. Dewa yang berbadan cahaya bisa menampakkan diri
dan dilihat oleh saudara-saudara kita yang telah tinggi tingkat kebatinannya, yang sudah bontos elmu
sejatinya., artinya sudah melihat kasunyataan – kenyataan sejati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar