Landasan inti ajaran Sunda adalah ―welas-asih‖ atau cinta-kasih, dalam bahasa Arab-nya disebut
―rahman-rahim‖, inti ajaran inilah yang kelak berkembang menjadi pokok ajaran seluruh agama yang ada
sekarang, sebab adanya rasa welas-asih ini yang menjadikan seseorang layak disebut sebagai manusia.
Artinya, dalam pandangan agama Sunda (bangsa asli Nuswantara) jika seseorang tidak memiliki rasa
welas-asih maka ia tidak layak untuk disebut manusia, pun tidak layak disebut binatang, lebih tepatnya
sering disebut sebagai Duruwiksa (Buta) mahluk biadab.
Agar pemahaman ke depan tidak menjadi rancu dan membingungkan dalam memahami istilah ―Sinar
(Astra/ Ra/ Matahari), Cahaya (Dewa) dan Terang‖ maka perlu dijelaskan sebagai berikut;
Sundayana terbagi dalam tiga bidang ajaran dalam satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisah
(Kemanunggalan) yaitu;
1. Tata-Salira/ Kemanunggalan Diri; berisi tentang pembentukan kualitas manusia yaitu,
meleburkan diri dalam ―ketunggalan‖ agar menjadi ―diri sendiri‖ (si Swa) yang beradab,
merdeka dan berdaulat atau menjadi seseorang yang tidak tergantung kepada apapun dan
siapapun selain kepada diri sendiri.
Dalam perkembangan nya kata si Swa Menjadi SIWA ,yang berkembang di dataran India.
2. Tata-Naga-Ra/ Kemanunggalan Negeri; yaitu memanunggalkan masyarakat/ bangsa (negara)
dalam berkehidupan di Bumi secara beradab, merdeka dan berdaulat. Pembangunan negara yang
mandiri, tidak menjajah dan tidak dijajah.
3. Tata-Buana/ Kemanunggalan Bumi; ialah kebijakanuniversal (kesemestaan) untuk
memanunggalkan Bumi dengan segala isinya dalam semesta kehidupan agar tercipta kedamaian
hidup di Buana.
Sesuai dengan bentuk dan dasar pemikiran ajaran Matahari sebagai sumber cahaya maka tata
perlambangan wilayah di sekitar Jawa-Barat banyak yang mempergunakan sebutan ―Ci‖yang artinya
―Cahaya‖, dalam bahasa India disebut sebagai deva/ dewa (cahaya) yaitu pancaran (gelombang) yang
lahir dari Matahari berupa warna-warna. Terdapat lima warna cahaya
utama (Pancawarna) yang menjadi landasan filosofi kehidupan bangsa
Galuh penganut ajaran Sunda:
Cahaya Putih di timur disebut Purwa, tempat Hyang Iswara.
Cahaya Merah di selatan disebut Daksina, tempat Hyang Brahma.
Cahaya Kuning di barat disebut Pasima, tempat Hyang Mahadewa.
Cahaya Hitam di utara disebut Utara, tempat Hyang Wisnu.
Segala Warna Cahaya di pusat disebut Madya, tempat Hyang Siwa.
Lima kualitas ―Cahaya‖ tersebut sesungguhnya merupakan nilai
―waktu‖ dalam hitungan ―wuku‖. Kelima wuku (wuku lima) tidak ada yang buruk dan semuanya baik,
namun selama ini Sang Hyang Siwa (pelebur segala cahaya/ warna) telah disalah-artikan menjadi ―dewa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar