Selasa, 04 Oktober 2016

Hal 40.Benarkah Borobudur candi Buddha...?

Yang menerangkan bahwa orang Indonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, tersirat dalam Encyclopedia
Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan ―tata – subita‖ yang lebih tinggi,
kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi
Kohao Rongo-rongo? fungsinya sebagai ―mnemo-teknik‖ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak
ada bait yang terlewat.
Cara Ciri Manusia adalah unsur-unsur dasar yang ada di dalam kehidupan manusia. Ada lima unsur yang
termasuk di dalamnya:
1. Welas asih: cinta kasih
2. Undak usuk: tatanan dalam kekeluargaan
3. Tata krama: tatanan perilaku
4. Budi bahasa dan budaya
5. Wiwaha yudha naradha: sifat dasar manusia yang selalu
memerangi segala sesuatu sebelum melakukannya
Kalau satu saja cara ciri manusia yang lain tidak sesuai dengan hal tersebut maka manusia pasti tidak
akan melakukannya.
Prinsip yang kedua adalah Cara Ciri Bangsa. Secara universal, semua manusia memang mempunyai
kesamaan di dalam hal Cara Ciri Manusia. Namun, ada hal-hal tertentu yang membedakan antara manusia
satu dengan yang lainnya. Dalam ajaran Sunda Wiwitan, perbedaan-perbedaan antarmanusia tersebut
didasarkan pada Cara Ciri Bangsa yang terdiri dari: Rupa, Adat, Bahasa, Aksara, Budaya
Kedua prinsip ini tidak secara pasti tersurat di dalam Kitab Sunda Wiwitan, yang bernama Siksa
Kanda-ng karesian. Namun secara mendasar, manusia sebenarnya justru menjalani hidupnya dari apa
yang tersirat. Apa yang tersurat akan selalu dapat dibaca dan dihafalkan. Hal tersebut tidak memberi
jaminan bahwa manusia akan menjalani hidupnya dari apa yang tersurat itu. Justru, apa yang tersiratlah
yang bisa menjadi penuntun manusia di dalam kehidupan.
Awalnya, Sunda Wiwitan tidak mengajarkan banyak tabu kepada para pemeluknya. Tabu utama yang
diajarkan di dalam agama Sunda ini hanya ada dua.
Yang tidak disenangi orang lain dan yang membahayakan orang lain .Yang bisa membahayakan diri
sendiri
Akan tetapi karena perkembangannya, untuk menghormati tempat suci dan keramat (Kabuyutan, yang
disebut Sasaka Pusaka Buana dan Sasaka Domas) serta menaati serangkaian aturan mengenai tradisi
bercocok tanam dan panen, maka ajaran Sunda Wiwitan mengenal banyak larangan dan tabu. Tabu
(dalam bahasa orang Kanekes disebut "Buyut") paling banyak diamalkan oleh mereka yang tinggal di
kawasan inti atau paling suci, mereka dikenal sebagai orang Baduy Dalam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar