Selasa, 04 Oktober 2016

Hal 39.Benarkah Borobudur candi Buddha..?

Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai
Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib.
Namun,suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai
daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya
sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis.
Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus). Dalam perjalanan sejarahnya,
mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan
pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi.
Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di
Pelabuhanratu (sekarang). Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di
antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya.
Benarkah Parahiangan sebagai Pusat Dunia yang Hilang ,Atlantis
Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal
tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun
teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih
berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magis.
Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila
melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang￾orang Atlantis — yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol
Untuk memudahkan menjawab pertanyaan di atas, mari kita buktikan dengan benda-benda hasil karya
mereka. Salah satunya adalah Trappenpyramide, yaitu limas bertangga,Punden berundak.
Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu
pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat
tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan.
Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah
dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat
―sesembahan‖ orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang
menjadi ―sesembahan‖ pendatang ditempatkan di bawahnya.
Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem ―sesembahan‖ yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa
Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu,
yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara
Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara),
Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup
budaya, melainkan dalam perkawinan.
Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo
matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar