Burné oleh Antonio Pigafetta atau Bornei oleh Duarte
Barbosa. Kolonial Belanda dan Inggris menyebutnya nama
pulau tersebut Borneo.
Batara Kala dan Herkules keduanya memiliki nafsu yang
tak terpuaskan, dan sifat yang sangat kasar, brutal dan keras
di sepanjang hidup mereka. Rupanya, Solon
menterjemahkan ―Kala‖ menjadi ―Herkules‖. Penulis
menghipotesiskan Pilar Herkules sebagai tugu batas yang
dihiasi dengan wajah Kala, seperti yang banyak sekali
terdapat di Jawa dan Bali.
Korban Kerbau ,Pada bagian akhir Critias, dijelaskan bahwa pada setiap lima atau enam tahun sekali
berselang-seling, para raja Atlantis berkumpul untuk berdiskusi dan membuat perjanjian, diakhiri dengan
persembahan korban banyak kerbau. Kebiasaan korban kerbau untuk persembahan hanya ada di Asia
Tenggara dan Asia Tengah bagian selatan. Tentu saja Plato tidak menyebutnya sebagai ―kerbau‖ karena
binatang ini hanya terdapat di daerah tersebut, tetapi sebagai binatang yang mirip yaitu ―banteng‖.
Candi dan Piramida ,Selain menhir, meja batu dan patung-patung batu, budaya megalitik Austronesia di
Nusantara juga menampilkan struktur piramida berundak yang terdiri dari tanah dan batu, disebut sebagai
"punden berundak", dianggap sebagai salah satu karakteristik budaya asli Nusantara.
Struktur ini telah ditemukan dan tersebar di seluruh Nusantara sejauh Polinesia. Diantaranya ditemukan di
Pegunungan Hyang-Argapura, Lebak Sibedug, Basemah, Pangguyangan, Cisolok dan Gunung Padang;
yang terakhir adalah merupakan situs megalitik terbesar dan tertua di Asia Tenggara yaitu 23.000 SM
atau lebih tua (Natawidjaja, 2013).
Candi Sukuh dan Cetho di Jawa Tengah (tahun masih diperdebatkan) menunjukkan unsur-unsur punden
berundak budaya Austronesia yang agak menyerupai piramida di Amerika Tengah. Punden berundak
adalah desain dasar Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Seperti dikatakan dalam Critias, Candi Poseidon dan Cleito
dibangun di pulau pusat yang berupa sebuah bukit, dikelilingi oleh
lingkaran-lingkaran air. Untuk mencapai candi dari lingkaran air
paling dalam, diperlukan undak pada lereng bukitnya. Hal ini dapat
diartikan bahwa candi ini menampilkan struktur piramida berundak
bumi-dan-batu, ciri budaya asli Nusantara yang disebut sebagai
"punden berundak".
Kelapa ,Plato menulis dalam Critias Bagian 115b: ―... dan buahbuahan yang memiliki kulit keras, airnya dapat diminum, ada
dagingnya dan dapat digunakan sebagai minyak urapan ...‖
Selain beberapa nama klasik lain, Kalimantan pernah disebut denga nama Nusakencana, secara harfiah
berarti ―pulau emas‖, sebagaimana dinyatakan dalam Ramalan Jayabaya dari Kerajaan Kadiri di Jawa
pada abad ke-12.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar