Selasa, 04 Oktober 2016

Hal 33.Benarkah Borobudur candi Buddha...?

Pegunungan Muller-Schwaner yang terdekat dengan dataran adalah Gunung Liangapran dengan
ketinggian 2.240 meter di atas permukaan air laut saat ini, sedangkan yang di Pegunungan Meratus adalah
Gunung Besar dengan ketinggian 1.890 meter. Pegunungan ini sebagian besar tertutup oleh hutan primer,
dihuni oleh bermacam-macam satwa dan sebagai kediaman suku Dayak.
Menghadap ke selatan dan terlindung dari utara – Hal ini adalah cocok bahwa datarannya menghadap ke
selatan dan terlindung oleh pegunungan di sebelah utara.
Berbentuk persegi dan lonjong, panjangnya sekitar 555
kilometer dan lebarnya sekitar 370 kilometer – Bentuk
dataran adalah persegi di bagian selatan dan lonjong di
bagian utara. Ukurannya hampir sama persis, 555 kilometer
panjangnya dan 370 kilometer lebarnya.
Terdapat desa-desa dan rakyat yang makmur, sungai, rawa
dan padang rumput – Daerah dataran dalam kondisi saat ini terletak di daerah hutan hujan tropis,
memiliki tingkat curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, memiliki suhu hangat sepanjang tahun,
sebagian besar rawa dan memiliki banyak sungai besar dan anak sungai sehingga daerahnya subur dan
kaya makanan dan sumber daya kebutuhan sehari-hari.
Dewa Poseidon yang dipuja oleh orang Atlantis adalah identik dengan Dewa Baruna, seorang dewa dalam
mitologi Nusantara pra-dharma, keduanya diberi julukan ―Dewa Air‖ atau ―Dewa Laut‖. Jadi, Solon
menterjemahkan Baruna menjadi Poseidon.
Pulau Kalimantan dulunya pernah dikenal dengan nama Warunapura atau tempatnya dewa Baruna.
Selanjutnya, naskah Nagarakretagama menyebutkan sebuah negara yang berada dalam lingkup pengaruh
Majapahit yang disebut Baruné, kemudian diidentifikasi sebagai Barunai, sebuah kerajaan yang sekarang
dikenal dengan nama Brunei. Sumber-sumber Eropa selanjutnya pada abad ke-16 menyebut nama pulau
itu sebagai Burné oleh Antonio Piga
SIGEG II. Jaman KUNA-MAKUNA (Sadurunge Tahun Masehi, Nabi
Isa el masih durung miyos)
Wong Nusa Bruney-kidul sing manggon ning saurute pesisire Teluk
Sampit sarta neng tepis kiwa tengene Bengawan Sampit-hilir, ing
sawijining wektu ketrajang pageblug-gedhe. Jare wong-wong Sampit
kuwi padha digrowoti Setan Blarutan-sogrok weteng; nganti akeh banget
wong-wong sing padha mati, luwih-luwih bocah cilik sing isih demolan.
Wong-wong sing isih urip padha miris banget, nuli padha ngungsi
minggat ngumbara lelayaran mengidul nyabrang samodra Bruney;
tumuju ning Nusa Kendheng. Setan Blarutan ora wani nyabrang samodra
nututi wong-wong ngungsi mau, jare wedi kesiku Bathari Hwa Ruh Na,
ratune Jim-Samodra. ( Nusa kendeng = Pulau Jawa saat ini )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar