Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 127

pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong yang mengelilingi tubuh candi.
Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang
sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.Hiasan pada
candi Mendut Tiga arca di dalam candi Mendut,
arca Dhyani diapit Awalokiteswara dan
Wajrapani.Hiasan yang terdapat pada candi
Mendut berupa hiasan yang berselang-seling.
Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk berupa
dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua
ekor kera dan seekor garuda.
Hariti.Dinding candi dihiasi relief di antaranya
Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat relief kalpataru,
dua bidadari, Harītī seorang yaksi yang bertobat dan Āţawaka.
Di dalam induk candi terdapat arca besar berjumlah tiga: Di depan arca terdapat relief berbentuk roda dan
diapit sepasang rusa,. Di sebelah kiri terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca
Wajrapāņi.
Relief-relief ,Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting)
Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan, Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:
Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang
terhadap segala macam hewan.
Maka berjalanlah dia untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak
gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: ―Kubawanya ke
sungai, sebab aku merasa kasihan.‖ Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan
di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana.
Si Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan
nikmat, hatinya nyaman.
Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana.
Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: ―Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan
padaku, aku mangsanya.‖
Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: ―Aku ingin
memangsa matanya kawan.‖ Begitulah perjanjian mereka.
Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: ―Aduh,
sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.‖ Terpikir olehnya bahwa si
kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. ―Ada
siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.‖

Tidak ada komentar:

Posting Komentar