Minggu, 02 Oktober 2016

Hal 160

Kitab Suryasiddhanta adalah Kitab tentang Astronomi yang di temukan di India ,dalam kitab ini terdapat
peraturan peraturan yang menjelaskan pergerakan benda benda angkasa yang sesuai dengan letak asli nya
di jagat raya,kitab ini tidak di ketahui siapa penulis nya dan kapan kitab ini di susun pertama kali
nya,bebrapa kitab yang membahas tentang Matematika dan Astronomi merujuk pada naskah
ini,Sementara terjemahan dalam bahasa Arab dan Latin kelak berpengaruh pada ilmu pengetahuan di
Timur Tengah dan Eropa.
Ada dugaan perkiraan kitab ini adalah kitab yang di turun kan kepada Nabi yang tidak termasuk dalam 25
Nabi ,tapi ada dalam nama Nabi yang 313 orang nama Nabi.
Penulis berkesimpulan Pulau besar tersebut adalah ― SUNDA LAND ― sedang kan ― Meroe ― adalah
Nama tempat yang terkenal dunia saat itu yang saat ini bernama Pulau Jawa,di mana dalam cerita jawa
dan cerita yang di catat oleh para bikhsu india tentang Meroe,sebagai pusat nya para Dewa dalam budaya
asli peradaban Jawa yang pada saat itu mengalami kejayaan nya pada peradaban SABA.
Kita akan membuktikan tentang kata ― Meroe ― dalam peradaban jawa dan yang tercatat oleh orang
India,sebelum kita masuk pada penjelasan tentang kedua tokoh Ratu Saba dan Sulaiman.
Tantu Pagelaran
Tantu Pagelaran atau Tangtu Panggelaran adalah kitab Jawa kuno berbahasa Kawi yang Kitab ini
berkisah tentang cerita lisan yang di tulis mengenai asal mula pulau Jawa.
Cerita tentang ― Meroe ― di tanah jawa.
Dalam kitab ini dikisahkan Batara Guru (Shiwa) memerintahkan dewa Brahma dan Wishnu untuk
mengisi pulau Jawa dengan manusia. Karena pulau Jawa saat itu masih mengambang di lautan luas,
terombang-ambing, dan senantiasa berguncang, para dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa
dengan cara memindahkan Gunung Mahameru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya,
sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular naga raksasa yang membelitkan tubuhnya pada gunung
dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di
bagian barat pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke
atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke
timur, serpihan gunung yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang
dari barat ke timur.
Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para
dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.
Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Penanggungan,
dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama
Gunung Semeru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar